NUNUKAN - Keterbatasan akses di tambah dengan tingginya biaya logistik di wilayah perbatasan tak membuat Kelompok Pembudidaya Ikan Air Tawar
'Mas Muda' Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, menyerah. Sejumlah upaya dilakukan guna memutus ketergantungan pakan pabrikan demi memenuhi kebutuhan usaha budidaya ikan.
Kelompok pembudidaya ikan air tawar ini berdiri sejak 2023 lalu. Dorongan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memberikan harapan bagi Mas Muda untuk menghasilkan pakan sendiri. Bermodalkan pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal yang digelar Balai TNKM menjadi modal.
Ketua Kelompok Mas Muda, Novri mengatakan, melalui pelatihan tersebut tidak sekadar menambah pengetahuan. Lebih dari itu, melalui pelatihan ini membuka peluang bagi pembudidaya untuk memanfaatkan potensi yang ada di sekitar desa sebagai bahan pakan alternatif.
Sebab, selama ini, kebutuhan pakan menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan usaha budidaya ikan. Dan, kelompok Mas Muda bahkan dapat menghabiskan sekitar 20 karung pakan pabrikan setiap bulan.
“Pakan pabrikan sangat berpengaruh karena harganya semakin mahal,” ujar Ketua Kelompok Mas Muda, Novri, Senin (7/9).
Dijelaskan, kelompok yang ia pimpin membudidayakan beberapa jenis ikan air tawar. Diantaranya ikan mas, nila dan lele jumbo. Untuk sekali panen, produksi ikan yang dihasilkan sekitar 50 kilogram. Selanjutnya, hasil panen kemudian dipasarkan dari rumah ke rumah serta melalui kios pedagang daging ayam dan ikan.
"Di tengah kebutuhan pakan yang cukup besar, kehadiran maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Lemna atau duckweed dalam pelatihan tersebut menjadi pengetahuan baru bagi anggota kelompok," jelasnya.
Sementara, Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito mengatakan, pelatihan tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen balai dalam mendampingi masyarakat di kawasan penyangga taman nasional.
"Khususnya kelompok binaan seperti KTH Mas Muda, agar dapat mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Seno.
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk ITB, diharapkan dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan kawasan taman nasional secara berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi dengan berbagai pihak seperti ITB dapat terus berlanjut, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya di dalam kawasan taman nasional,” tambahnya.
Untuk diketahui, pelatihan yang diselenggarakan Balai TNKM menghadirkan Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ramadhani Eka Putra.
"Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai kebutuhan protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin bagi ikan air tawar. Tetapi juga diajak memetakan potensi bahan baku yang tersedia di Desa Buduk Tumu," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT