Kasus ISPA di Nunukan Meningkat, Dinkes: Jangan Abaikan Bahaya Kabut Asap

Asrullah RT • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 19:52 WIB
WASPADA : Ditengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Nunukan, Dinkes P2KB Nunukan mencatat kenaikan kasus ISPA diakhir Agustus 2026.
WASPADA : Ditengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Nunukan, Dinkes P2KB Nunukan mencatat kenaikan kasus ISPA diakhir Agustus 2026.

NUNUKAN - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Nunukan menunjukkan pola fluktuatif sepanjang Agustus 2026. Usai mengalami penurunan selama beberapa minggu, jumlah kasus kembali meningkat pada akhir Agustus 2026.

Itu berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB)  Kabupaten Nunukan, pada Minggu Epidemiologi ke-31 tercatat sebanyak 420 kasus ISPA. 

Jumlah tersebut kemudian menurun menjadi sekitar 350 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-32 dan kembali turun menjadi sekitar 330 kasus pada Minggu ke-33. Namun, memasuki Minggu Epidemiologi ke-34, jumlah kasus ISPA kembali meningkat hingga sekitar 380 kasus.

Kepala Dinkes Nunukan, Hj. Miskia mengatakan, berdasarkan pantauan perkembangan kasus ISPA di Nunukan memerlukan perhatian bersama. Apalagi, saat ini kondisi kabut asap menyelimuti wilayah Nunukan beberapa hari terakhir.

“Kasus ISPA selama Agustus menunjukkan pola yang fluktuatif. Setelah mengalami penurunan, pada minggu ke-34 kembali terjadi peningkatan. Kondisi ini tentunya memerlukan perhatian bersama,” ucap Hj.Miskia, Rabu (2/9).

Dijelaskan, peningkatan jumlah kasus ISPA yang terjadi belum dapat disimpulkan sebagai dampak kabut asap. Alasannya, ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor. Seperti, kondisi cuaca, lingkungan, daya tahan tubuh, serta paparan polusi udara.

Ia menegaskan, kabut asap yang menyelimuti wilayah Nunukan tetap menjadi perhatian serius. Khususnya terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, ia terus mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dan melindungi diri serta keluarga dari paparan asap.

Sebab, paparan kabut asap dapat mengganggu kesehatan siapa saja. Dan asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Sehingga, masyarakat yang terpapar berpotensi mengalami keluhan seperti batuk, pilek hingga sesak napas.

"Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung, serta memberikan risiko lebih besar bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, anak-anak dan lanjut usia," ungkapnya. 

Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak guna mengurangi paparan langsung terhadap udara yang tercemar asap.

"Selain melindungi diri dari paparan asap, menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi dan beristirahat dengan cukup juga penting untuk melindungi diri, keluarga dan lingkungan," pungkasnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla kabut asap ispa nunukan