NUNUKAN - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan mengungkapkan kondisi udara kabur terjadi di Pulau Nunukan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini diduga dipengaruhi sebaran asap dari wilayah sekitar Kalimantan Utara (Kaltara) yang terbawa pergerakan angin hingga ke Pulau Nunukan.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Nunukan, Rayhan mengatakan, pihaknya hingga saat ini terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan sebaran titik panas melalui data BMKG serta Kementerian Kehutanan. Berdasarkan pemantauan satelit pada 19 Agustus 2026 pukul 1.00 hingga 19.00 WITA, terdeteksi dua titik panas di Nunukan dengan tingkat kepercayaan sedang.
Kedua titik tersebut berada di wilayah Kecamatan Krayan Tengah dan Krayan Timur. Sementara itu, sejumlah titik panas juga terpantau di wilayah sekitar Kabupaten Nunukan, khususnya Kabupaten Malinau dan Bulungan, dengan tingkat kepercayaan mulai rendah hingga tinggi.
"Sebanyak sembilan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kabupaten Bulungan. Kondisi lebih banyak juga terpantau di Provinsi Kalimantan Timur. Secara keseluruhan, terdapat 96 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi di wilayah tersebut," ucap Rayhan.
Menurutnya, keberadaan titik panas di sejumlah wilayah tersebut perlu menjadi perhatian karena kondisi atmosfer dan arah angin memungkinkan asap bergerak ke wilayah lain.
“Berdasarkan dinamika atmosfer BMKG pada 19 Agustus 2026, angin permukaan bertiup dari arah tenggara hingga barat daya menuju barat laut hingga timur laut dengan kecepatan sekitar 3–7 knot,” jelasnya.
Pola angin tersebut menyebabkan asap dari wilayah sumber kebakaran berpotensi terbawa menuju Pulau Nunukan dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini kemudian memicu udara kabur sekaligus menurunkan jarak pandang.
“Pergerakan angin tersebut membawa sebaran asap hingga Pulau Nunukan dan sekitarnya. Dampaknya terlihat dari kondisi udara yang kabur dengan jarak pandang berkisar 5–7 kilometer,” sebutnya.
Dijelaskan, selain faktor sebaran asap, kondisi lingkungan di sejumlah wilayah pesisir Kaltara juga perlu diwaspadai. Berdasarkan peta kerentanan lahan terbakar, permukaan tanah di kawasan pesisir Kaltara berada pada kategori sangat mudah terbakar.
Rendahnya kelembapan bahan pemicu kebakaran di permukaan lahan dapat membuat api lebih mudah muncul dan berpotensi mempercepat perluasan kebakaran apabila tidak segera ditangani.
Dari sisi kualitas udara, pemantauan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Kabupaten Nunukan berada pada kisaran 15,6–55,4 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut masih berada pada kategori sedang.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya kelompok rentan dan warga yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
Rayhan mengimbau masyarakat di Pulau Nunukan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Warga juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran lahan.
“Jika harus bepergian atau beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap,” tutupnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT