Berpengalaman di Bidang Reserse, Mengenal Lebih Dekat Sosok Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni

Asrullah RT • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni. ASRULLAH/RADAR TARAKAN
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni. ASRULLAH/RADAR TARAKAN

Perjalanan AKBP Ruslaeni yang merupakan pria kelahiran Kota Tarakan bergabung di Kepolisian  tidak berjalan mulus. Ia sempat dinyatakan gagal saat mengikuti tes Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2003 dan tak membuatnya patah semangat. Dari kegagalan itu ia bangkit mempersiapkan segalanya dan berhasil masuk Akpol pada 2004. Seperti apa perjuangannya? Berikut kisahnya.

Asrullah, Nunukan

'Jangan Menyakiti Masyarakat' Begitulah pesan orang tua AKBP Ruslaeni saat ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di Akpol pada 2007 lalu. Pesan itulah yang menjadi pegangan sejak bertugas pertama kali hingga kini menjabat sebagai Kapolres Nunukan.

Bagi anak ke 4 dari 6 bersaudara pesan orang tuanya menjadi penguat dan rambu-rambu dalam menjalankan tugas dan memimpin kesatuan. Sebab, dibalik pesan itu, ada cerita pilu yang perna dialami orang tuanya yang bekerja sebagai petambak ikan. Sehingga, apa yang dialami tidak terulang kepada orang lain.

"Saat saya selesai pendidikan, saya sudah menjadi anggota Polri pesan itu disampaikan. Pesannya jangan sekali-sekali menyakiti masyarakat karena ada pengalaman tersendiri orang tua saya. Itulah yang saya tanamkan ke diri saya menjadi pengingat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca mengenang momen tersebut.

Pria kelahiran Tarakan, 21 November 1983 silam ini menceritakan keinginan menjadi Abdi Negara usai melihat para taruna dan taruni TNI yang berkunjung ke Tarakan. Saat itu, ia dibawa orang tua melihat KRI Dewaruci yang ditumpangi TNI. Dengan kekaguman yang luar biasa menumbuhkan semangatnya untuk menjadi abdi negara.

Putra dari Alm Hn Nurdin dan Hj. Nursiah ini menyelesaikan pendidikan SD 031 Tarakan, kemudian lulus di SMP 4 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Hang Tuah.

Ia mengaku, saat pendaftaran Akademi Militer (Akmil) bertempat dengan waktu pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sehingga fokus menyelesaikan pendidikannya di SMA 1 Kota Tarakan. Setelah itu, ia juga memperoleh informasi pendaftaran taruna Akpol sehingga mengikuti tes pada 2003.

Hasilnya, ia berakhir pada tes Pemantauan Akhir atau Penentuan Akhir (Pantukhir). Kegagalan ini tak membuatnya berhenti. Bahkan, semangatnya semakin kuat untuk bergabung menjadi anggota Bhayangkara.

Segalanya ia persiapkan dengan matang. Ia memulai dengan mencari informasi sebagai modal untuk mengikuti tes. Kemudian, ia juga kesana kemari belajar. Dan pada seleksi di 2004 ia mengungguli ratusan peserta dan dinyatakan lulus bersama tiga orang rekannya.

"Dulu itu taunya mau jadi taruna aja. Saya sempat daftar Akmil. Ada senior saya yang dari Tarakan itu agak jauh baru ada. Karena kuota masih ikut Kaltim belum ada kuota Kaltara. Ada rasa minder karena kita dari Utara. Jadi di 2004 hanya 4 yang lulus dari 150 peserta dan satu-satunya dari Tarakan," kisahnya.

Sebelum dinyatakan lulus Akpol 2004, ia sempat diminta agar mendaftar di Bintara Polri. Namun, tekatnya sudah bulat. Ia meminta restu orang tuanya agar diizinkan mengikuti tes untuk kedua kalinya. Ia juga berjanji jika dinyatakan tidak lulus Akpol akan mengikuti keinginan orang tuanya.

"Saya sempat dinasehati orang tua, Akpol itu berat. Karena saat itu, untuk mendaftar harus ke Balikpapan dulu. Sementara, untuk Bintara ada sub panda di Tarakan. Saya sempat gagal, karena masih awam untuk tes Akpol. Ada kakak saya ada anggota Polri saat itu pangkat Briptu. Saat itu saya minta satu kesempatan dan direstui orang tua saya," kenangnya.

Usai menjalani pendidikan di Akpol, dengan pangkat Ipda ia pertama mengemban tugas Tanah Papua. Ia mendapat penempatan pertama di Polres Jayapura dan Polres Biak, Polda Papua hingga 2014. Selama bertugas di Papua ia mengakui memiliki sejumlah pengalaman yang tak terlupakan.

"Di Papua itu orang semuanya baik-baik. Memang karakter agak keras. Jadi banyak pengalaman disana," singkatnya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di 2014. Setela mengikuti pendidikan, ia ditempatkan di Polda Kaltim pada 2015. Saat itu ia diamanahkan sebagai Kasat Reskrim Polres Malinau pada 2016 hingga 2017. Selanjutnya, ditempatkan sebagai Kasat Reskrim di Polresta Balikpapan hingga  Oktober 2018.

Pada November 2018 setelah Polda Kaltara terbentuk, sebagai putra daerah ia kembali mendapatkan amanah bertugas di Polda Kaltara sebagai Kasubdit Tipikor, Ditreskrimsus Polda Kaltara hingga 2023.

Ditahun yang sama ia dinyatakan lulus Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen). Setelah menyelesaikan pendidikan ia ditunjuk sebagai Sespri Kapolda Kepri. Selama di Polda Kepri, ada tiga jabatan stategis yang ditempati.

Pertama, Koorspripim Polda Kepri pada Februari 2023 hingga 2025, kedua Kasubdit Indagsi Polda Kepri pada 2025. Dimasa itu, sejumlah perkara berhasil dituntaskan. Menurutnya, beragam tantangan yang dihadapi dikarenakan geografis wilayah hukum Polda Kepri. Mulai dari aktivitas ekspor, impor dengan wilayah perbatasan sejumlah negara.Seperti, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Laut Cina Selatan.

"Di Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Kepri sekitar 5 bulan dan akhirnya mendapatkan telegram bertugas di Polda Kaltara sebagai Kapolres Nunukan. Bertugas di Nunukan bukan hal yang baru. Sebab, sebelumnya sudah menjalankan tugas di wilayah Kaltara," tutupnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
nunukan Kapolres Nunukan feature