NUNUKAN - Upaya mempercepat pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Itu dibuktikan melalui pemetaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa Lintong dan Desa Tapal II, Kecamatan Lumbis Ogong.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Nunukan, April Tibian mengatakan, pendampingan penjajakan awal telah dilakukan selama dua hari. Pemetaan KAT yang digelar melibatkan tim dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) dan akademisi Universitas Mulawarman (Unmul).
"Kehadiran berbagai pihak ini menjadi langkah awal dalam menyusun basis data yang akurat sebagai landasan penyusunan program pemberdayaan bagi masyarakat adat di wilayah perbatasan," ucap April Tibian.
Dijelaskan, selama dua hari, tim melakukan identifikasi dan pemetaan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur hingga pemenuhan kebutuhan dasar.
"Dari data yang dihimpun, diharapkan mampu memberikan gambaran utuh mengenai kondisi riil masyarakat Komunitas Adat Terpencil sehingga intervensi program pemerintah dapat lebih tepat sasaran," jelasnya.
Lanjutnya, keterlibatan akademisi Universitas Mulawarman menjadi bagian penting dalam memastikan proses pemetaan dilakukan secara komprehensif, berbasis kajian ilmiah, serta tetap menghormati nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.
"Pendampingan ini merupakan langkah awal yang sangat penting. Melalui sinergi antara pemerintah daerah, Kemensos RI, dan perguruan tinggi, kita berharap hasil pemetaan di Desa Lintong dan Tapal II ini dapat menjadi pijakan kuat dalam menghadirkan program pemberdayaan masyarakat adat terpencil yang berkelanjutan," harapnya.
Ia menambahkan, hasil penjajakan tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan maupun program pemberdayaan yang lebih terarah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat KAT di kawasan Lumbis Ogong.
Melalui pemetaan yang komprehensif, pemerintah berharap berbagai kebutuhan dasar masyarakat adat terpencil dapat teridentifikasi sejak dini.
"Dengan demikian, program pemberdayaan yang disusun tidak hanya menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan Nunukan," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT