Siapkan Sekolah Tangguh Bencana di Nunukan, Bekali Siswa Hadapi Situasi Darurat

Asrullah RT • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:18 WIB
EDUKASI : Kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, BPBD, Puskesmas, aparat keamanan, komite sekolah, orang tua dan masyarakat dalam menghadapi bencana. 
EDUKASI : Kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, BPBD, Puskesmas, aparat keamanan, komite sekolah, orang tua dan masyarakat dalam menghadapi bencana. 

NUNUKAN - Upaya membangun budaya sadar bencana sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh. Itu dibuktikan SMP Negeri 2 Nunukan melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan mengatakan, program SPAB merupakan program nasional yang penting diterapkan. Mengingat sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di lingkungan sekolah.

"Program ini menjadi penting karena sekolah merupakan tempat anak-anak banyak menghabiskan waktunya. Apalagi Kabupaten Nunukan memiliki kondisi geografis yang berpotensi mengalami berbagai situasi bencana," ucap Raden Iwan Kurniawan.

Dijelaskan, kejadian bencana alam seperti banjir dan longsor beberapa waktu terakhir terjadi di wilayah Nunukan. Situasi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bersama, termasuk di lingkungan satuan pendidikan.

"Melalui kegiatan ini, pemerintah bersama satuan pendidikan dan tim penanggulangan bencana memperagakan skenario situasi bencana sekaligus memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang tata cara mitigasi dan evakuasi," jelasnya.

Ia menegaskan, tiga hal utama yang ingin ditanamkan melalui simulasi tersebut. Pertama, membentuk kesadaran peserta didik agar tanggap dan peka terhadap potensi bencana di sekitar mereka. Kedua, membiasakan siswa mengikuti arahan dari guru, sekolah, maupun tim penanganan bencana. Ketiga, mengajarkan pentingnya menjaga ketenangan saat terjadi kondisi darurat.

"Ketika terjadi bencana, biasanya muncul kepanikan. Melalui kegiatan ini anak-anak diajarkan agar tidak panik, tetap tenang, serta memahami jalur evakuasi dan mengikuti arahan tim gabungan," jelasnya.

Karena itu, ia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan SPAB di SMP Negeri 2 Nunukan dan berharap sekolah-sekolah lain di Kabupaten Nunukan dapat menerapkan kegiatan serupa secara rutin.

"Kami berharap kegiatan seperti ini dapat diadopsi oleh seluruh sekolah di Kabupaten Nunukan. Sehingga kesiapsiagaan bencana menjadi budaya di lingkungan pendidikan," harapnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Nunukan Arbain, mengatakan pelaksanaan program SPAB merupakan bentuk komitmen sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tangguh menghadapi berbagai risiko.

"Bagi kami, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah melindungi seluruh peserta didik dari berbagai risiko bencana," bebernya.

Diharapkan, melalui SPAB pihaknya ingin membangun budaya sadar bencana, meningkatkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah, memperkuat prosedur keselamatan, serta mempererat kerja sama antara sekolah dengan berbagai pihak.

"Program ini tidak bisa berjalan sendiri, dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, BPBD, Puskesmas, aparat keamanan, komite sekolah, orang tua dan masyarakat," tutupnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
sekolah tangguh bencana nunukan bencana alam