Perkuat Daya Saing Ekonomi Perbatasan, BPPD Nunukan Dorong Hilirisasi Sawit di Sei Menggaris

Asrullah RT • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 20:24 WIB
Kepala BPPD Kabupaten Nunukan Robby Nahak Serang
Kepala BPPD Kabupaten Nunukan Robby Nahak Serang

NUNUKAN - Kecamatan Sei Menggaris menjadi salah satu kawasan strategis di perbatasan Indonesia–Malaysia yang berperan penting dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten Nunukan. Didukung potensi perkebunan kelapa sawit yang terus berkembang, wilayah ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat daya saing daerah perbatasan. 

Itu dikuatkan dengan data yang dimiliki Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan pada sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit. Bahkan, tercatat sebagai penyumbang terbesar produk domestik regional bruto (PDRB) Nunukan pada sektor pertanian. 

Kepala BPPD Kabupaten Nunukan, Robby Nahak Serang mengatakan, potensi tersebut merupakan modal besar yang harus dikelola secara optimal agar mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Sehingga, pengembangan industri pengolahan dibutuhkan. 

"Sei Menggaris memiliki potensi perkebunan yang sangat besar. Tantangan ke depan tidak lagi hanya meningkatkan hasil produksi. Tetapi, bagaimana menghadirkan hilirisasi. Sehingga, komoditas yang dihasilkan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat," ucap Robby Nahan Serang. 

Dijelaskan, selama ini aktivitas ekonomi masyarakat masih didominasi pada sektor hulu. Yaitu budidaya dan produksi tandan buah segar (tbs) kelapa sawit. Padahal, Sei Menggaris memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat industri pengolahan yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Karena itu, BPPD menilai pengembangan industri hilir akan memberikan dampak yang jauh lebih luas terhadap perekonomian daerah. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, keberadaan industri pengolahan juga diyakini mampu memperkuat rantai pasok, meningkatkan investasi, serta mendorong tumbuhnya sektor usaha lainnya. 

"Jika hasil perkebunan dapat diolah di daerah sendiri, maka manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Nilai tambah tidak lagi keluar dari daerah, tetapi dapat dinikmati masyarakat Nunukan. Inilah yang menjadi arah pembangunan kawasan perbatasan yang ingin kami dorong," jelasnya.

Berdasarkan data produksi komoditas ini juga menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Sehingga, menjadikannya salah satu sektor ekonomi paling prospektif di Nunukan. Disisi lain, keberadaan sejumlah perusahaan perkebunan besar beserta kebun plasma masyarakat menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi berbasis kelapa sawit telah berkembang cukup pesat.

"Kami ingin pengembangan industri di Sei Menggaris berjalan secara berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi harus tetap memperhatikan aspek lingkungan, tata ruang, serta kepentingan masyarakat lokal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang," tegasnya.

Selain itu, ia menilai posisi geografis Sei Menggaris yang berbatasan langsung dengan Malaysia menjadi keuntungan tersendiri dalam memperluas akses pasar. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, kawasan ini berpotensi berkembang menjadi pusat distribusi produk perkebunan sekaligus gerbang perdagangan lintas negara.

"Ketika infrastruktur semakin baik, biaya distribusi akan semakin efisien. Hal itu akan meningkatkan daya saing produk daerah sekaligus menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sei Menggaris," tutupnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
hilirisasi sawit nunukan ekonomi sawit