NUNUKAN - Fenomena hujan es terjadi Kecamatan Krayan dan Krayan Barat pada Kamis (16/7). Tak hanya itu cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang berdampak pada rumah hingga tempat ibadah.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, berdasarkan data pengamatan cuaca Stasiun Meteorologi Yuvai Semaring pada Kamis, (16/7) intensitas curah hujan harian yang terukur menunjukkan nilai 72 mm dengan kategori hujan lebat dengan kecepatan angin maksimum 18 knot.
Kemudian, suhu muka laut di sekitar perairan Kalimantan Utara berkisar antara 30 derajat Celsius hingga 32 derajat Celsius. Dan anomali suhu muka laut di lokasi tersebut berkisar antara 0.5 derajat Celsius hingga +1.0 derajat Celsius.
"Kondisi ini mempengaruhi terjadinya peningkatan konvektifitas di wilayah Kalimantan Utara dan sekitarnya," ucap Muhammad Sulam Khilmi melalui pesan tertulis yang diterima Radar Tarakan, Jumat (17/7).
Dijelaskan, untuk pola angin berdasarkan peta analisis angin (16/7) pada lapisan 925hPa, terpantau adanya perlambatan angin (konvergensi). Madden-Julian Oscillation (MJO) Pola MJO terpantau berada di kuadran 7 fase (Western Pacific). Tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Utara dan sekitarnya.
"Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur terindikasi aktif di wilayah Kalimantan Utara dan sekitarnya," singkatnya.
Kemudian, berdasarkan parameter indeks stabilitas atmosfer udara atas pada (16/7) Pukul 00 UTC, nilai K–Index (KI) bernilai 33 hingga 38, indeks SI bernilai -3 hingga -1, Lifted Index (LI) bernilai –7 hingga -4. Nilai KI di atas 30 mengindikasikan potensi tinggi untuk pembentukan awan hujan, sementara LI negatif mendukung proses pengangkatan udara ke lapisan lebih tinggi.
"Sehingga disimpulkan, cuaca ekstrem berupa fenomena hujan es disertai angin kencang menyebabkan satu rumah warga tertimpa pohon tumbang, atap rumah warga serta tempat ibadah terlepas. Analisis atmosfer menunjukkan bahwa suhu muka laut di perairan Kalimantan Utara berada pada kisaran 30–32 derajat Celsius dengan anomali 0.5 derajat Celsius hingga +1.0°C, yang turut memperkuat proses konvektif," jelasnya.
Selain itu, aktifnya Gelombang Kelvin, terpantau adanya perlambatan angin (konvergensi), kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga atas, serta Indeks stabilitas atmosfer menunjukkan kondisi yang labil di wilayah Kalimantan Utara mendukung pembentukan awan Cumulonimbus.
"Secara keseluruhan, kejadian hujan es yang disertai angin kencang ini dipicu oleh kombinasi faktor global, regional dan lokal," bebernya.
Dan berdasarkan data dan analisis meteorologi terkini, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir masih berpeluang terjadi selama tujuh hari ke depan di beberapa wilayah Provinsi Kalimantan Utara.
"Kami mengimbau masyarakat Kalimantan Utara selalu waspada terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air di daerah-daerah rawan bencana. Pihak-pihak terkait diminta untuk memantau kondisi lingkungan, terutama daerah aliran sungai dan lereng bukit, serta menyiapkan langkah mitigasi yang diperlukan," tutupnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT