NUNUKAN - Momentum peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Nunukan menggelar Bakti Sosial (Baksos) berupa pelayanan KB gratis. Pelayanan KB gratis ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk meningkatkan ketahanan keluarga serta kualitas penduduk melalui kontribusi pengendalian penduduk dan kesehatan reproduksi. Selain itu, program ini juga menjadi langkah nyata dalam berkontribusi menurunkan angka stunting melalui pengaturan jarak kehamilan.
PKB Ahli Muda, Nursida mengatakan, untuk mencapai target, pemerintah melakukan berbagai upaya kolaboratif. Langkah ini menjadi tugas utama dari Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana/BKKBN, serta di tingkat daerah dijalankan Dinas Kesehatan dan P2KB.
Dijelaskan, baksos yang dilaksanakan dengan berbagai pelayanan. Mulai dari jenis kontrasepsi, baik yang bersifat hormonal seperti pil, suntik, dan implan, maupun non-hormonal atau Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti kondom dan IUD.
"Jenis KB yang paling banyak diminati oleh warga Nunukan adalah implan. Efisiensi jangka waktu menjadi alasan utama mengapa alat kontrasepsi ini sangat diminati oleh Pasangan Usia Subur (PUS)," ucap Nursida.
Dijelaskan, implan ini menjadi favorit karena memang keunggulannya dipasang sekali untuk tiga tahun. Jadi masyarakat tidak harus bolak-balik suntik per tiga bulan atau satu bulan sekali.
Kemudian efektivitasnya sangat tinggi, di atas 90 persen dalam mencegah kehamilan. Ini sangat cocok bagi pasangan usia subur yang masih muda dan perlu menjaga jarak kehamilannya.
Adapun target akseptor (peserta KB) untuk wilayah Kecamatan Nunukan. Sebagai wilayah dengan target terbesar, ia optimis realisasi di lapangan akan terus bergerak naik seiring berjalannya proses rekonsiliasi data.
"Untuk target akseptor baru di Kecamatan Nunukan itu yang paling besar, yaitu sebanyak 129 orang. Realisasi di lapangan berdasarkan data terakhir yang kami tarik sudah berada di angka 50 persen. Namun besok pasti akan meningkat setelah selesai penginputan karena masih ada data yang belum masuk. Kemungkinan besar realisasinya akan melonjak hingga 80 persen," jelasnya.
Lebih lanjut, Nursida menjelaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari peran aktif para Penyuluh KB (PKB) yang menjalankan dua fungsi strategis. Pertama, melakukan advokasi kepada pembuat kebijakan seperti pihak kecamatan, PKK, kelurahan, hingga kepala puskesmas untuk memberikan dukungan penuh. Kedua, gencar melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) langsung kepada masyarakat dan kader-kader KB di lapangan.
"Teman-teman PKB sudah menjadi leading sector dalam giat hari ini. Mulai dari mobilisasi, penyediaan alat kontrasepsi, logistik pelayanan, melakukan konseling, hingga memastikan setiap akseptor yang datang terlayani dengan baik," pungkasnya. (adv/akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT