NUNUKAN - Di tengah putusnya akses akibat jembatan yang ambruk diterjang banjir, semangat belajar para siswa MI Darul Furqon di Sebatik Tengah tetap menyala. Demi mengikuti ujian, generasi bangsa ini menempuh perjalanan yang lebih sulit dengan bantuan orang tua dan warga sekitar untuk bisa sampai ke sekolah. Dan demi memastikan buah hatinya sampai ke sekolah, para orangtua siswa tersebut menggendong anaknya untuk menyebrangi sungai yang berada di Jalan Sinta, Desa Sungai Limau, Selasa (2/6).
Kepala MI Darul Furqon, Adnan Lolo mengatakan saat ini para siswa sedang menjalani ujian semester. Walaupun akses terputus, siswa-siswi tetap berusaha datang ke sekolah dengan bantuan orangtua.
“Karena sedang masa ujian, ada orangtua yang mengantar bahkan menggendong anaknya untuk menyeberangi sungai. Setelah sampai di seberang, mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah,” ucap Adnan Lolo, Selasa (2/6).
Dijelaskan, tidak semua siswa-siswi memiliki keberanian untuk melintasi sungai tersebut. Sehingga, beberapa siswa memilih tidak masuk sekolah karena khawatir akan keselamatan saat melintas sungai karena arus yang cukup deras.
Karena kondisi ini, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus bagi siswa yang berhalangan hadir. Para siswa-siswi diperbolehkan mengikuti ujian susulan setelah kondisi akses kembali memungkinkan untuk dilalui.
“Karena keselamatan siswa-siswi tetap menjadi prioritas. Untuk siswa-siswi yang tidak bisa hadir karena kondisi ini, kami menyiapkan jadwal ujian susulan,” jelasnya.
Lanjutnya, jembatan yang putus merupakan jalur utama yang setiap hari dilalui para guru, siswa dan masyarakat sekitar. Selain menjadi akses menuju sekolah, jembatan itu juga menghubungkan warga dengan area perkebunan yang menjadi sumber mata pencaharian.
Terputusnya akses tersebut juga membuat aktivitas masyarakat ikut terhambat. Saat ini warga mencari cara lain untuk melintasi sungai, atau menunggu debit air surut agar bisa melintas dengan aman. Pihak juga berharap pembangunan jembatan darurat dapat segera direalisasikan. Alasannya, jika hujan kembali turun dan debit air meningkat, aktivitas belajar mengajar berpotensi terganggu karena guru maupun siswa tidak dapat mencapai sekolah.
“Harapan kami ada solusi secepatnya, minimal jembatan darurat terlebih dahulu. Yang terpenting keselamatan anak-anak tetap terjaga dan kegiatan belajar bisa terus berjalan,” pintanya. Sementara, Camat Sebatik Tengah, Aris Nur membenarkan jembatan yang menjadi akses utama masyarakat terputus usai diterjang derasnya arus sungai.
Menurutnya, jika kondisi debit air normal, masyarakat dapat melintas dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua. Namun, ketika hujan turun dan arus sungai meningkat, akses tersebut menjadi sangat berbahaya. “Kalau air sedang tinggi, tentu tidak memungkinkan untuk dilewati," singkatnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Kecamatan Sebatik Tengah bersama Pemerintah Desa Sungai Limau dan instansi terkait kini berupaya mencari solusi sementara dengan membangun jembatan darurat. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Nunukan serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan.
"Rencana tersebut memanfaatkan konstruksi jembatan lama yang berada tidak jauh dari lokasi jembatan yang rusak. Dan tim teknis dari Dinas PU telah turun ke lapangan guna melakukan pengecekan kondisi lokasi sekaligus menyusun langkah penanganan selanjutnya," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT