NUNUKAN – Kondisi banjir yang melanda wilayah Kecamatan Sembakung sejak Senin, (18/5) mulai menunjukkan tanda-tanda surut. Namun di tengah penurunan debit air, ancaman tanah longsor justru muncul dan berdampak pada rumah warga di Desa Atap, Kecamatan Sembakung.
Kepala Subsi Bidang Penyelamatan dan Evaluasi BPBD Nunukan, Hasanuddin mengatakan, berdasarkan laporan perkembangan banjir pada Kamis (21/5) pukul 08.00 WITA, ketinggian muka air saat ini terpantau berada di angka 3,5 meter. Kondisi ini terjadi penurunan sekitar 5 sentimeter dibandingkan kondisi pada Rabu (20/5) sore.
“Secara umum kondisi banjir di wilayah Kecamatan Sembakung sudah mulai berangsur surut,” ucap Hasanuddin, Kamis (21/5).
Meski demikian, banjir yang terjadi beberapa hari terakhir mengakibatkan longsoran baru di RT 04 Desa Atap. Longsor tersebut dipicu tanah yang terus terkikis arus banjir. Akibat kejadian itu, lebih dari empat rumah warga terdampak.
"Bahkan, satu kepala keluarga dengan empat jiwa terpaksa membongkar bagian dapur rumah mereka secara mandiri sebagai langkah antisipasi untuk menghindari dampak yang lebih besar," jelasnya.
Ia menegaskan, personel BPBD Nunukan terus melakukan pemantauan di lokasi guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan. Utamanya di area bantaran sungai yang rawan terkikis.
Untuk diketahui, banjir yang terjadi sejak Senin (18/5) di Kecamatan Sembakung terdampak pada dua desa yakni Desa Atap dan Desa Tagul. Untuk Desa Atap ada dua RT yang terdampak yakni RT 6 dan RT 7. Sementara, Desa Tagul ada 1 RT.
"Sementara itu, meski sebagian wilayah masih terdampak banjir, aktivitas masyarakat, pelayanan pemerintahan, kegiatan sekolah hingga aktivitas umum lainnya di Kecamatan Sembakung dilaporkan tetap berjalan normal," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT