NUNUKAN – Tim Vokasi UGM menilai Kabupaten Nunukan memiliki peluang besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peluang itu dapat direalisasikan melalui transformasi ekonomi berbasis hilirisasi dan pengembangan sektor bernilai tambah.
Ketua Tim Vokasi Universitas Gadjah Mada, Prof Mudrajad Kuncoro mengatakan, Prosperity Blueprint yang disusun tim Sekolah Vokasi UGM merupakan bagian dari penyusunan masterplan ekonomi Kabupaten Nunukan. Dimana, struktur ekonomi Nunukan saat ini masih didominasi sektor pertambangan dan perdagangan komoditas primer. Seperti, batu bara, kelapa sawit dan rumput laut.
Baginya, kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi daerah belum sepenuhnya berdampak terhadap pemerataan kesejahteraan masyarakat. "Nunukan memiliki PDRB per kapita yang tinggi, bahkan jauh di atas rata-rata nasional. Namun, tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan itu benar-benar menghadirkan pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ucap Mudrajad Selasa, (12/5).
Dalam kajian tersebut, disebutkan PDRB per kapita Kabupaten Nunukan pada 2025 diperkirakan mencapai Rp165,4 juta atau hampir dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Kemudian, sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi struktur ekonomi daerah hingga mencapai 48,03 persen pada 2025.
Pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tercatat mengalami penurunan kontribusi dari 22,91 persen pada 2020 menjadi 21,09 persen di 2025. Sedangkan, industri pengolahan juga belum berkembang signifikan dan hanya berada di kisaran 6 hingga 7 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Dengan kondisi ini, menunjukkan bahwa Nunukan masih berada dalam pola ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam mentah atau export-led economy, di mana nilai tambah terbesar justru dinikmati pihak luar daerah.
Dan baginya terjadi growth without development atau pertumbuhan tanpa pembangunan atau kondisi ketika angka ekonomi tumbuh tinggi tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata.
“Jika daerah hanya mengekspor bahan mentah, maka keuntungan terbesar akan dinikmati industri di luar daerah. Nunukan harus mulai membangun industri pengolahan agar nilai tambah ekonomi tinggal di daerah,” pesannya.
Ia menegaskan, Nunukan sebenarnya memiliki modal besar untuk melakukan transformasi ekonomi. Selain menjadi wilayah perbatasan strategis, Nunukan juga memiliki sejumlah komoditas unggulan dengan potensi hilirisasi tinggi seperti rumput laut, kelapa sawit, kakao hingga batu bara.
"Komoditas rumput laut menjadi salah satu kekuatan utama Nunukan karena kontribusinya terhadap produksi Kalimantan Utara mencapai sekitar 60 hingga 80 persen dalam lima tahun terakhir. Bahkan, Nunukan tercatat sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia," katanya.
Kemudian, tim UGM juga menyoroti besarnya potensi ekspor rumput laut Nunukan yang diperkirakan mencapai 556 juta dolar Amerika Serikat per tahun dengan total produksi sekitar 695 ribu ton per tahun.
Hanya saja, rantai usaha rumput laut di Nunukan dinilai masih menghadapi banyak kendala. Mulai dari ketergantungan terhadap tengkulak, lemahnya posisi tawar petani hingga risiko cuaca yang tinggi akibat proses pengeringan tradisional.
Karena itu, ia mendorong percepatan hilirisasi industri berbasis rumput laut melalui pembangunan pabrik pengolahan karaginan, bioplastik, produk pangan hingga farmasi berbahan baku rumput laut. Selain hilirisasi, ia juga menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri.
Tim Vokasi UGM merekomendasikan pengembangan pendidikan terapan di bidang pemasaran komoditas unggulan, pembangunan ekonomi wilayah, teknik sipil, teknik mesin hingga perencanaan pembangunan daerah.
Mudrajad juga mengajak seluruh pemangku kepentingan di Nunukan untuk mengubah pola pikir pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak lagi bisa hanya bergantung pada APBD, melainkan harus mampu menarik investasi dan memanfaatkan jejaring bisnis nasional maupun internasional.
Ia menyebut transformasi Nunukan harus dimulai dengan visi besar yang jelas dan terukur dalam jangka panjang. “Bahasanya jangan lagi hanya soal masalah dan keterbatasan, tetapi bagaimana menempatkan Nunukan lima hingga 25 tahun ke depan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di perbatasan,” pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT