NUNUKAN – Belakangan ini cuaca panas terik terjadi di Kabupaten Nunukan, khususnya di wilayah Pulau Nunukan dan Sebatik. Hal ini dipengaruhi sejumlah faktor atmosferik yang saling berkaitan belakangan ini.
Fungsional Pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, Rayhan Rinanto mengatakan, kondisi panas yang dirasakan masyarakat terjadi akibat minimnya kandungan uap air di atmosfer. Kondisi ini membuat proses pembentukan awan menjadi sangat terbatas.
Sehingga, radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan. "Kurangnya uap air di atmosfer membuat awan sulit terbentuk. Akibatnya, sinar matahari lebih optimal memanaskan permukaan. Sehingga, suhu udara terasa lebih tinggi dari biasanya,” ucapnya, Selasa (31/3).
Dijelaskan, saat ini fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada dalam fase netral. Sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Nunukan.
Selain itu, faktor lain yang cukup dominan yakni menguatnya monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia bagian utara, termasuk Kalimantan Utara (Kaltara).
Kemudian, di perairan Kaltara suhu muka laut relatif tidak dan juga berkontribusi terhadap rendahnya penguapan. Alhasil, suplai uap air ke atmosfer menjadi terbatas.
“Kecepatan angin yang meningkat juga turut menghambat pertumbuhan awan konvektif, yaitu awan yang berpotensi menimbulkan hujan. Kondisi ini semakin memperkuat dominasi cuaca cerah dalam beberapa hari terakhir,” bebernya.
Lanjutnya, fenomena astronomis berupa kulminasi atau posisi semu harian matahari yang tepat berada di atas wilayah pengamat turut memperparah kondisi panas. Di Nunukan, kulminasi utama diperkirakan terjadi pada 31 Maret 2026 sekitar pukul 12.13 WITA.
BMKG memprakirakan kondisi cuaca cerah dan panas ini masih berpotensi berlangsung hingga awal April 2026. Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari guna meminimalkan dampak paparan panas berlebih.
“Pada saat kulminasi, posisi matahari berada tepat di atas kepala, sehingga intensitas radiasi yang diterima permukaan bumi menjadi maksimal. Ini yang membuat suhu terasa lebih terik,” pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT