Saat matahari terbenam, aktivitas warga perlahan terhenti. Gelap menjadi bagian dari keseharian. Masyarakat sangat bergantung pada cahaya alami di siang hari. Ketika malam tiba, sebagian warga menyalakan lilin atau lampu minyak. Hanya keluarga tertentu yang mampu mengoperasikan genset karena keterbatasan biaya bahan bakar.
“Kalau malam, aktivitas memang sangat terbatas. Kami mengandalkan lilin atau lampu minyak,” ujar Pemuda Desa Long Bulu, Mastaryo, Senin (23/2).
Ketiadaan listrik berdampak langsung pada sektor pendidikan. Proses belajar mengajar berlangsung dengan fasilitas seadanya. Sekolah kesulitan menyediakan penerangan memadai, komputer, maupun media pembelajaran elektronik. Anak-anak pun tidak dapat belajar optimal pada malam hari.
Minimnya akses internet semakin memperlebar ketertinggalan. Murid-murid di Long Bulu kesulitan memperoleh informasi dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Di wilayah perbatasan seperti ini, kesenjangan digital terasa nyata.
“Kami tidak punya akses perpustakaan digital atau internet. Anak-anak sulit mengikuti perkembangan di luar,” tambahnya.
Keterbatasan serupa juga dirasakan dalam tata kelola pemerintahan desa. Administrasi masih dilakukan secara manual, mulai dari pendataan warga, pencatatan aset desa, hingga penyusunan laporan keuangan. Tanpa dukungan sistem digital, proses menjadi lambat dan rentan kesalahan.
Koordinasi dengan pemerintah kecamatan hingga kabupaten pun tidak mudah. Untuk mengirim laporan atau menerima informasi penting, perangkat desa harus menunggu warga yang bepergian ke Mansalong atau desa lain yang memiliki sinyal.
“Biasanya ada warga yang bolak-balik ke Mansalong atau desa lain yang ada sinyal. Kami titip pesan atau surat kalau ada urusan mendesak,” ungkap Mastaryo.
Di sektor kesehatan, keterbatasan listrik membuat layanan dasar tidak dapat mengoperasikan peralatan medis yang membutuhkan daya stabil. Posyandu maupun fasilitas kesehatan tidak bisa menggunakan alat tertentu yang memerlukan pasokan listrik tetap.
Padahal, Long Bulu sempat merasakan akses komunikasi melalui jaringan Telkomsel Bakti sejak 2021. Namun, pada akhir 2024 jaringan tersebut tidak lagi aktif hingga sekarang. Sejak itu, desa kembali sepenuhnya tanpa akses komunikasi seluler.
“Kami berharap sinyal Telkomsel Bakti bisa diaktifkan kembali. Waktu itu sangat membantu masyarakat,” harapnya.
Selain sinyal dan listrik, warga juga mendambakan pembangunan akses jalan darat. Selama ini, mobilitas masyarakat sepenuhnya mengandalkan jalur sungai yang sangat bergantung pada cuaca dan debit air.
Sebagai wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di perbatasan negara, masyarakat Long Bulu berharap perhatian pemerintah terhadap penyediaan akses dasar semakin diperkuat.
“Harapan utama kami listrik dan sinyal bisa segera masuk dan stabil. Itu akan membawa dampak besar untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Bagi warga Long Bulu, kehadiran listrik dan sinyal bukan sekadar soal teknologi. Di beranda negeri yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini, keduanya menjadi simbol kehadiran negara, serta jembatan menuju kesempatan yang lebih setara dengan daerah lain di Tanah Air. (dra/lim)
Editor : Azward Halim