NUNUKAN – Sejumlah kebutuhan masyarakat Nunukan saat ini masih dipasok dari sejumlah wilayah di Indonesia. Karena kondisi itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan mengambil langkah antisipatif guna menjaga kelancaran distribusi logistik selama Ramadan.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Dior R Frames mengatakan, Pemkab Nunukan telah mengirimkan surat kepada penyediaan jasa pelayaran. Tujuannya agar disediakan armada pengangkut barang ke wilayah Nunukan dengan rute Parepare-Nunukan.
“Surat permohonan penambahan armada sudah diajukan langsung oleh Pak Bupati ke pihak penyedia jasa pelayaran. Pemilik Kapal Thalia yang selama ini menjadi salah satu armada utama pengangkut logistik,” ucap Dior R Frames, Rabu (11/2).
Dijelaskan, berdasarkan informasi yang diterima DKUKMPP Nunukan KM Thalia sudah dijadwalkan kembali berlayar dari pelabuhan asal Parepare pada 16 Februari 2026 dan diperkirakan tiba di Nunukan sekitar 18 Februari 2026.
Saat ini lanjutnya, kapal swasta yang melayani rute Parepare-Nunukan hanya satu armada. Tercatat, hingga pekan kedua Februari kondisi pasokan dan harga kebutuhan pokok di Nunukan masih relatif stabil. Dan belum ditemukan adanya kenaikan harga signifikan di pasar.
“Sampai minggu kedua Februari ini belum ada kenaikan harga. Biasanya pergerakan baru terasa ketika konsumsi meningkat, terutama mendekati Ramadan,” bebernya.
Baginya, potensi kenaikan harga bersifat terbatas pada komoditas tertentu. Seperti bawang merah, bawang putih, cabai dan bahan kebutuhan kue. Sementara, lonjakan yang lebih signifikan umumnya terjadi menjelang Idulfitri, terutama pada komoditas daging dan ayam.
Guna menjamin ketersediaan beras, DKUKMPP Nunukan telah melakukan sosialisasi kepada pedagang dan agen agar tetap mendatangkan pasokan melalui kapal swasta dan kapal Pelni dari Surabaya maupun Sulawesi. “Pedagang tetap bisa menggunakan kapal swasta seperti Pantokrator atau kapal Pelni yang memungkinkan membawa pasokan beras dan barang campuran lainnya,” ungkapnya.
Saat ini, berdasarkan pantauan harga untuk beras medium di pasaran harganya dikisaran Rp 14.000 hingga Rp 14.500 per kilogram. Kemudian, beras premium sekitar Rp 16.000 per kilogram, sementara beras kualitas tertinggi mencapai Rp 16.600 per kilogram.
Baginya, perbedaan harga dibandingkan daerah lain dipengaruhi kondisi geografis Nunukan sebagai wilayah perbatasan yang bergantung pada transportasi laut. Sehingga, biaya yang harus dikeluarkan lebih besar untuk barang tiba di Nunukan. “Secara geografis ongkos angkut kita berbeda dengan daerah lain. Kondisi ini yang memengaruhi harga,” pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT