Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jelang Nataru, Harga Cabai di Nunukan Melonjak Naik

Riko Aditya • Rabu, 17 Desember 2025 | 14:59 WIB
HARGA NAIK: Harga cabai sudah naik lagi menjadi Rp 80 ribu dari yang sebelumnya di kisaran harga Rp 60 ribu.
HARGA NAIK: Harga cabai sudah naik lagi menjadi Rp 80 ribu dari yang sebelumnya di kisaran harga Rp 60 ribu.

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar-pasar tradisional tetap aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Meski demikian, satu komoditas yang menjadi perhatian khusus adalah cabai rawit, yang mulai menunjukkan tren kenaikan harga akibat dinamika pasokan.

Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames menyampaikan, bahwa hasil pemantauan rutin menunjukkan sebagian besar harga kebutuhan pokok masih berada dalam batas normal. Kenaikan harga baru terjadi pada komoditas cabai rawit.

“Secara umum, stok Sembako masih aman dan mencukupi. Harga juga relatif stabil. Kenaikan sejauh ini baru terjadi pada cabai rawit,” kata Dior ketika diwawancarai, Selasa (16/12).

Dior menjelaskan, naiknya harga cabai rawit tidak terlepas dari ketergantungan Nunukan terhadap pasokan dari luar daerah, khususnya Sulawesi Selatan dan sejumlah wilayah lainnya.

Distribusi yang mengandalkan transportasi laut membuat pasokan sangat dipengaruhi kondisi cuaca serta jadwal operasional kapal. Menurutnya, keterlambatan pengiriman maupun jeda pelayaran menjelang akhir tahun berpotensi memicu keterbatasan stok di pasaran, sehingga berdampak pada harga.

Saat ini, harga cabai rawit tercatat berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram, naik sekitar Rp 20.000 dari harga sebelumnya.

Meski begitu, pihaknya menilai kondisi tersebut masih dalam tahap wajar dan belum mengganggu stabilitas pasar. Pemkab Nunukan akan terus melakukan pemantauan intensif untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi, terutama saat mendekati puncak libur Nataru.

“Ya, kami terus memantau pergerakan harga dan stok di lapangan. Selama tidak ada penimbunan atau lonjakan pembelian yang tidak wajar, ketersediaan masih dapat dikendalikan,” ungkapnya.

Dior juga menyoroti peran petani cabai lokal di Nunukan yang ikut menopang pasokan meski masih terbatas. Cabai lokal dinilai memiliki kualitas lebih baik karena kesegarannya, namun produksinya belum bisa memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

“Cabai lokal harganya memang lebih tinggi, bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram, karena kualitasnya lebih segar. Namun ketersediaannya musiman dan belum mampu menutup kebutuhan pasar sepenuhnya,” jelas Dior.

Dior pun mengingatkan adanya potensi kenaikan harga cabai rawit pada akhir Desember 2025, seiring dengan penghentian sementara pelayaran kapal dari Sulawesi menjelang pergantian tahun. Jeda distribusi tersebut diperkirakan berlangsung selama beberapa hari.

“Biasanya kapal berhenti berlayar mulai 29 Desember dan kembali beroperasi 1 Januari. Pada masa jeda itu, harga cabai rawit berpotensi kembali naik,” bebernya.

Sementara untuk komoditas lain seperti beras, tepung, dan bahan pangan pokok lainnya, harga dinilai masih stabil. Beras medium dijual di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 14.500 per kilogram, sementara beras premium berada di rentang Rp 16.000 hingga Rp 16.200 per kilogram. Harga tepung terigu berkisar Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram, dan tepung merek Segitiga Biru sekitar Rp 13.000 per kilogram.

Adapun stok minyak goreng di tingkat agen mulai menurun akibat meningkatnya permintaan, seiring penyaluran bantuan sosial oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan. Meski demikian, DKUKMPP memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan tidak mengganggu kebutuhan masyarakat secara luas. (raw/lim)

Editor : Azward Halim