Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames menjelaskan, bahwa pada tahun ini anggaran SOA mencapai Rp 1,8 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh perubahan harga satuan transportasi, baik biaya pesawat udara maupun angkutan sungai. “Anggaran Rp 1,8 miliar itu khusus untuk transportasi saja, untuk membayar pesawat dan perahu. Sementara barang sembakonya dibeli langsung oleh penyalur. Pemerintah daerah hanya menyediakan alat angkutnya,” ujar Dior ketika diwawancarai, Selasa (16/12).
Distribusi SOA dilakukan ke beberapa wilayah terpencil melalui dua jalur utama, yakni jalur sungai dan jalur udara. Untuk jalur sungai, sasaran distribusi meliputi Kecamatan Lumbis, Lumbis Hulu, dan Lumbis Pansiangan. Sementara jalur udara melayani wilayah Krayan Induk, Krayan Tengah, Krayan Barat, Krayan Timur, dan Krayan Selatan.
Melalui jalur udara, pendistribusian dilakukan sebanyak 18 penerbangan menggunakan pesawat Smart Air. Setiap kecamatan mendapatkan jatah enam kali penerbangan secara bertahap, dengan kapasitas angkut sekitar 1.200 kilogram per penerbangan.
Sementara itu, untuk wilayah Lumbis yang mengandalkan jalur sungai, pengangkutan dilakukan menggunakan perahu dengan kapasitas terbatas, yakni sekitar 1,5 hingga 2 ton per perjalanan. Kapasitas ini disesuaikan dengan kondisi arus sungai yang kerap berubah. “Kalau terlalu berat, perahu susah bergerak. Arus sungai itu jadi tantangan utama, apalagi di titik-titik tertentu yang dangkal atau berbatu,” jelas Dior.
Dior memaparkan, jalur distribusi sungai dimulai dari Desa Mensalong menuju Bintar dengan waktu tempuh sekitar dua jam, dilanjutkan ke Lumbis Pansiangan sekitar tujuh jam perjalanan. Untuk menuju Lumbis Hulu, waktu tempuh bisa bertambah hingga delapan jam, tergantung kondisi air dan cuaca.
Meski berisiko, Dior menegaskan penyaluran SOA tetap dilakukan secara bertahap hingga ke desa tujuan. Risiko seperti barang tersangkut atau terhambat di sungai memang pernah terjadi, namun tidak sampai menghentikan distribusi secara total. “Pasti ada risiko, pernah terhenti sementara kalau barang sangkut. Tapi tidak pernah berhenti total. Tahun ini tetap tersalurkan,” tegasnya.
Setelah tiba di titik sandar sungai, sembako masih harus dipikul oleh warga atau penyalur menuju desa-desa tujuan.
Selanjutnya, barang dijual kepada masyarakat melalui koperasi desa atau kelompok usaha setempat, mengingat belum semua wilayah memiliki fasilitas pasar yang memadai. Untuk meminimalkan kerugian, jenis barang yang dikirim juga dipilih yang memiliki daya tahan lama. “Makanya mereka tidak bawa barang yang gampang rusak. Kalau mie instan atau sembako kering masih aman meski lewat jalur sungai,” tambah Dior.
Dirinya juga mengungkapkan pengalaman pribadinya saat mendampingi distribusi, yang menggambarkan beratnya tantangan di lapangan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perahu harus dipikul melewati jalur dangkal atau berbatu agar distribusi tetap berjalan.
“Tantangannya memang besar, tapi itu jadi bagian dari upaya memastikan masyarakat di wilayah perbatasan dan pedalaman tetap mendapatkan akses kebutuhan pokok,” pungkasnya. (raw/lim) Editor : Azward Halim