NUNUKAN – Kondisi jalan nasional yang menghubungkan Bandara Yuvai Semaring (Krayan induk) menuju wilayah Krayan Timur kembali menjadi sorotan warga.
Jalan yang belum pernah tersentuh aspal dan rusak parah itu kembali menyulitkan mobilitas masyarakat, termasuk saat proses pengantaran jenazah beberapa waktu lalu.
Martinus Baru, warga asli Krayan Timur, menuturkan bahwa kerusakan jalan tersebut bukanlah persoalan baru. Dirinya menegaskan, jalan itu berstatus jalan nasional, namun kondisi faktualnya jauh dari layak untuk dilintasi kendaraan.
“Dari dulu jalan itu begitu-begitu saja. Itu jalan nasional, tapi tidak pernah diaspal. Kondisinya hancur,” ujarnya ketika dihubungi, Selasa (9/12).
Peristiwa terbaru yang memicu keprihatinan warga terjadi saat sebuah mobil pengangkut jenazah terperosok dan nyaris tidak bisa melintas akibat lumpur dan kubangan dalam di jalur Bandara–Krayan Timur.
“Jenazah dari Terang Krayan induk itu harusnya satu jam sampai ke rumah duka. Tapi kemarin bisa sampai dua jam karena mobilnya ditarik pakai tambang. Warga ramai-ramai bantu dorong karena kondisi jalannya benar-benar hancur,” jelas Martinus.
Menurutnya, sebelum mobil lewat, warga bahkan harus terlebih dulu menyusun papan kayu seperti rel agar ban kendaraan tidak kembali terjebak lumpur.
Keadaan itu tentu membuat keheranan dan kekecewaan warga karena wilayah Kalimantan, termasuk Krayan, yang selama ini menjadi pemasok kekayaan sumber daya alam nasional justru tidak menikmati pembangunan yang layak.
“Kita sudah puluhan tahun merdeka. Masa jalan seperti itu saja tidak bisa dibangun? Kalimantan ini yang menyumbang sumber daya alam untuk republik, tapi rakyatnya sendiri tidak menikmati hasil pembangunan,” tegasnya.
Martinus menambahkan, sekitar 50 kilometer ruas jalan yang dilalui masyarakat menuju Krayan Tengah hingga ke perbatasan Malaysia berada dalam kondisi memprihatinkan dan belum pernah diaspal sama sekali.
Kerusakan jalan yang ekstrem juga berdampak langsung pada layanan kesehatan. Menurut Martinus, pengiriman pasien atau vaksin bahkan tidak bisa menggunakan jalur darat.
“Kalau bawa vaksin atau pasien darurat, itu tidak bisa lewat jalan darat. Harus pakai pesawat. Biayanya besar sekali,” katanya.
Ia mencontohkan kasus jenazah yang sebelumnya harus diterbangkan dari Krayan menuju Tarakan dengan biaya charter sekitar Rp. 50 juta, karena tidak ada penerbangan reguler yang bisa mengangkut.
Martinus pun menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa ketidakpedulian pemerintah pusat terhadap infrastruktur dasar di wilayah perbatasan, dapat menurunkan rasa percaya dan nasionalisme masyarakat terhadap negara.
“Kami mohon pemerintah pusat hadir. Jangan sampai masyarakat perbatasan kehilangan rasa nasionalisme hanya karena kebutuhan dasar mereka tidak diperhatikan,” tegasnya.
Warga pun berharap pemerintah pusat segera memperbaiki jalan nasional di Krayan Timur dan wilayah sekitarnya, mengingat akses darat merupakan satu-satunya jalur menuju sebagian besar desa di pedalaman.
“Ini suara masyarakat. Kami hanya ingin akses layak, supaya mobilitas, termasuk saat membawa orang sakit atau jenazah, tidak lagi terhambat,” harap Martinus. (raw)
Editor : Azward Halim