Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Krayan Jadi Rumah Baru Bunga Rafflesia Pricei

Riko Aditya • Jumat, 28 November 2025 | 17:31 WIB

 

DOKUMENTASI TNKM  EKOWISATA BARU: Karena dekat dengan pemukiman masyarakat dan jadi ekowisata baru, pengawasan terhadap Bunga Rafflesia Pricei intens dilakukan
DOKUMENTASI TNKM EKOWISATA BARU: Karena dekat dengan pemukiman masyarakat dan jadi ekowisata baru, pengawasan terhadap Bunga Rafflesia Pricei intens dilakukan

Bunga Langka yang Justru Dekat dengan Warga dan Jadi Magnet Ekowisata 

NUNUKAN - Di banyak daerah Indonesia, Rafflesia masih dianggap bunga misterius yang hanya bisa dilihat jika beruntung. Namun di Krayan, bunga langka itu justru tumbuh berdampingan dengan kehidupan warga.

Fenomena ini menjadikan Desa Pa’ Kidang di Krayan Barat, sebagai salah satu lokasi paling mudah di Nusantara untuk menyaksikan mekarnya Rafflesia pricei.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito mengungkapkan, di Sumatera peneliti dan wisatawan harus menembus hutan berjam-jam untuk menemui Bunga Rafflesia Pricei, di Pa’ Kidang bunga raksasa ini tumbuh tak jauh dari pemukiman warga.

Buduk Udan, destinasi trekking setinggi 1.400 mdpl bahkan juga menawarkan jalur sepanjang 5 kilometer yang melewati habitat alami Rafflesia. Wisatawan yang datang kini memiliki peluang besar melihat antesis dalam satu kali perjalanan.

Kemunculan Rafflesia pricei juga terpantau di Long Api, Tang Paye, Rian Tubu, dan Paliran. Namun Pa’ Kidang tetap menjadi pusat pemantauan karena populasi yang paling stabil.

Seno menjelaskan, bahwa Rafflesia pricei tetap memiliki karakter biologis yang sulit ditebak.

“Berdasarkan monitoring, bunga ini sering mekar pada Agustus. Tapi sifatnya tidak pernah pasti, sehingga kami terus melakukan pengawasan rutin,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi mekarnya bunga, warga membentuk kelompok monitoring khusus. Mereka bekerja sama dengan Balai TNKM yang menyediakan pelatihan, jalur interpretasi, dan sarana wisata lainnya.

Transformasi hubungan warga dengan Rafflesia menjadi cerita tersendiri. Kepala SPTN Wilayah I, Hery Gunawan, menyebut bahwa dulunya bunga ini bahkan pernah dianggap tidak memiliki nilai.

Baca Juga: Berjalan Setahun, Inovasi Literasi Dinilai Tingkatkan Kemampuan Literasi Dasar Siswa

“Menurut cerita, dulu Rafflesia pernah dijadikan pakan anjing saat berburu. Masyarakat belum tahu ini tumbuhan langka,” ujar dalam pernyataan resmi..

Kini Rafflesia pricei justru menjadi ikon budaya Krayan. Motifnya muncul dalam tarian Dayak Lundayeh, menjadi simbol baru kepedulian hutan dan kebanggaan desa.


TNKM bersama masyarakat adat terus mendorong pengembangan ekowisata yang tidak merusak alam.

Pa’ Kidang Makmur kelompok wisata desa mengelola pemanduan, jalur trekking, dan edukasi konservasi. Wisata Buduk Udan pun, diharapkan menjadi sumber ekonomi baru.

“Kami ingin wisata berkembang tanpa mengurangi kelestarian hutan,” harap Seno.

Ketika banyak daerah harus menunggu momen langka untuk melihat Rafflesia mekar, Krayan justru menunjukkan hubungan paling dekat manusia dengan bunga langka ini.

Rafflesia tumbuh di halaman rumah warga, menjadi bagian dari budaya, dan mendorong ekowisata berkelanjutan.

“di Krayan, Rafflesia bukan hanya bunga raksasa, melainkan pengingat bahwa hutan yang dijaga akan memberi kehidupan kembali,” tutup Seno. (raw)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #krayan #bunga rafflesia pricei