Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jembatan Darurat ke Sekolah Tapal Batas di Sebatik Sudah Bisa Dilalui

Riko Aditya • Rabu, 26 November 2025 | 14:27 WIB
DOK MI DARUL FURQON SEBATIK JEMBATAN AMBRUK: Setelah beberapa pekan ambruk, jembatan untuk akses ke sekolah tapal batas sudah bisa dilalui dengan jembatan darurat
DOK MI DARUL FURQON SEBATIK JEMBATAN AMBRUK: Setelah beberapa pekan ambruk, jembatan untuk akses ke sekolah tapal batas sudah bisa dilalui dengan jembatan darurat

NUNUKAN - Akses menuju Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon atau biasa disebut sekolah tapal batas di Sebatik Tengah akhirnya kembali terbuka setelah jembatan darurat yang dibangun pemerintah desa dan kecamatan selesai dikerjakan.

Kondisi ini membuat anak-anak, termasuk siswa dari keluarga pekerja migran Indonesia (PMI) yang tinggal di perbatasan Malaysia, kini bisa kembali bersekolah tanpa harus melalui jalur alternatif yang sulit dilalui.

Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, menjelaskan bahwa jembatan darurat tersebut dibangun di lokasi yang sama dengan jembatan lama yang sebelumnya ambruk akibat erosi tanah di bagian bawah pondasi. Ia memastikan jembatan sudah dapat digunakan meski bersifat semi permanen.

“Ya, informasi terakhir yang kami terima, jembatan darurat sudah bisa dilewati. Yang penting dulu akses untuk anak-anak sekolah bisa aman, karena di dalam ada madrasah,” ujar Aris Nur ketika dikonfirmasi perkembangan jembatan, Rabu (26/11). 

Sebelumnya, kerusakan jembatan membuat siswa terpaksa menggunakan jalan alternatif melalui Bukit Keramat. Namun jalur itu kerap tidak bisa dilintasi karena berlumpur, terutama setelah hujan. Aris Nur menyebut kondisi tersebut sangat menyulitkan, termasuk bagi anak-anak PMI yang setiap hari melintasi perbatasan untuk bersekolah.

“Jalan alternatif itu kalau habis hujan, motor pun tidak bisa lewat. Jadi kami putuskan fokus pada jembatan utama, dibersihkan dan dipasang jembatan darurat,” jelasnya.

Airs Nur menerangkan, pembangunan jembatan darurat memanfaatkan anggaran dana desa dan dana kebencanaan yang sebelumnya sudah disiapkan. Pemerintah desa juga menyewa alat berat untuk memindahkan material yang menghambat proses pembangunan. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan BPBD, PUPR, hingga Baznas Kabupaten Nunukan yang memiliki alokasi dana kebencanaan.

Dirinya juga menegaskan bahwa penanganan dilakukan melalui satu pintu untuk menghindari tumpang tindih anggaran.

“Baznas juga punya anggaran kebencanaan, tapi kami sarankan tetap diarahkan ke pemerintah desa supaya tidak terjadi double budgeting,” terangnya.

Meski kini sudah dapat dilalui, jembatan darurat tersebut masih memiliki keterbatasan. Aris Nur menyebutkan bahwa kendaraan berat seperti pengangkut kelapa sawit belum dapat melintas dan harus menggunakan sistem dropping untuk sementara.

Dirinya juga menjelaskan bahwa keruntuhan jembatan sebelumnya bukan disebabkan hujan ekstrem, melainkan erosi yang terjadi secara bertahap pada tanah di bawah struktur jembatan.

Dengan akses yang kembali normal, Aris Nur minta warga segera melapor jika terjadi kerusakan susulan agar dapat dikoordinasikan cepat dengan pemerintah kabupaten.

“Kami tidak bisa setiap hari turun mengecek, jadi kalau ada yang mendesak langsung sampaikan, kami siap koordinasikan ke kabupaten,” bebernya. (raw/lim)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #jembatan