Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harga Pertalite Sama dengan di Kota, Warga Krayan Tak Lagi Bergantung BBM Malaysia

Nur Rahman • Rabu, 19 November 2025 | 11:12 WIB

KRAYAN - Terbatasnya akses membuat beberapa wilayah di perbatasan, khususnya Kalimantan Utara kesulitan mendapat BBM. Kalaupun ada, kadang harganya jauh di atas angka normal seperti di wilayah perkotaan. Kondisi itu berlangsung selama bertahun-tahun, sampai Pertamina berhasil memaksimalkan program BBM Satu Harga.

 

Situasi itu memaksa sebagian warga membeli BBM “impor” dari Malaysia, yang dibawa oleh para pengecer. Hal itu dirasakan oleh Angelina Lynn, warga Desa Liang Butan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

 

“Harga BBM Malaysia itu Rp 18.000 sampai 25.000 per liter. Dulu BBM dari Pertamina juga segitu, kadang lebih mahal, dan harus antre berjam-jam. Untungnya sekarang sudah tidak lagi,” katanya.

 

Setidaknya dalam setahun terakhir, dia menyebut pasokan BBM Pertamina yang dikirim dari Tarakan sudah lancar. Hampir setiap hari tersedia, dan harganya sudah sama seperti di daerah lain di Indonesia.

 

“Solar itu 6.800, pertalite10.000 per liter. Tapi memang jumlahnya dibatasi, supaya semua kebagian,” jelas gadis 20 tahun ini.

 

Selain untuk mesin yang dipakai bertani, solar kata dia, juga sebagai cadangan darurat bahan bakar genset untuk penerangan. “Karena listrik di sini juga masih susah,” sambung Angelina.

 

Kondisi senada diungkapkan Sugiartho Pramana, warga Desa Pa Melade, Kecamatan Krayan Timur. Menurutnya, dengan pangkalan yang sekarang tersedia hampir di setiap kecamatan, BBM lebih mudah dijangkau.

 

“Dulu kan kami ikut antre di induk (Kecamatan Krayan, Red). Sekarang di tempat kami juga ada, cuma satu kilometer dari rumah. Antrenya paling sekitar 10 menit kalau pertalite. Saya masih ingat beberapa tahun lalu antre bisa sampai 4 jam,” terang dia.

 

Dia juga memastikan, harga yang berlaku sesuai dengan edaran dari Pertamina untuk BBM Subsidi di wilayah Kalimantan. Yakni Rp 6.800 per liter untuk solar dan Rp 10.000 per liter untuk pertalite.

Dia pun berharap Pertamina dapat mempertahankan komitmen dalam menerapkan BBM Satu Harga. Termasuk dengan menjaga konsistensi dalam pelayanan dan kelancaran distribusinya.

 

Meski BBM dari Pertamina sudah tersedia, dia menyebut saat ini BBM kiriman dari Malaysia memang masih beredar di kios-kios. Namun karena harga ecerannya lebih mahal, jadi kurang diminati.

“Pertalite kan Rp 10.000, kalau yang dari Malaysia itu paling murah Rp 15.000 seliter. kadang lebih mahal. Orang beli kalau terpaksa aja,” sambung pria 35 tahun ini. (man)

DEMI SATU HARGA: Aktivitas muat BBM di Bandara Juwata Tarakan yang akan dikirim ke Krayan, pada Oktober 2024.
DEMI SATU HARGA: Aktivitas muat BBM di Bandara Juwata Tarakan yang akan dikirim ke Krayan, pada Oktober 2024.

Editor : Azwar Halim