NUNUKAN - Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang terjun langsung temui masyarakat dan para pedagang Bahan Bakar Minyak (BBM).
Ini dilakukan atas perintah Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri untuk menindaklanjuti persoalan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pulau Sebatik.
Hasil temuan di lapangan, selain produk milik Indonesia, juga ada produk Negeri Jiran Malaysia yang selama ini digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Dimana, harga kedua produk BBM antar Malaysia dan Indonesia berbeda.
"Kita temukan di lapangan soal harga itu beda. Untuk perbedaan harga bensin asal Malaysia berkisar diharga Rp 15 ribu rupiah perbotolnya. Tingginya harga BBM dari Malaysia juga dipengaruhi naiknya nilai tukar ringgit. Dan untuk bensin asal Indonesia di kisaran Rp 12 ribu rupiah. Hal ini menjadikan masyarakat lebih memilih untuk membeli dengan harga yang murah," ucap Robby Nahak Serang, Sabtu (15/11).
Namun, yang menjadi persoalan yakni terkait kuota ketersediaan BBM Indonesia yang tak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baik para nelayan maupun masyarkat luas. Kondisi ini juga yang membuat para nelayan mau tidak mau harus membeli BBM dari Malaysia dengan harga yang lebih mahal.
"Karena minimnya kuota ketersediaan BBM asal Indonesia. Diketahui, SPBU di Sebatik ada lima dengan skala besar. Namun tidak optimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat," jelasnya.
Dan guna menunjang kelancaran aktivitas perekonomian masyarakat, BPPD Nunukan segera menyampaikan persoalan ini ke Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri.
Kemudian, persoalan ini akan dibawa ke tingkat pusat agar persoalan minimnya kuota BBM untuk masyarakat dapat diselesaikan.
"Selanjutnya, Minggu ini, Pemkab Nunukan akan bersurat ke Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Dan akan segera menemui pejabat pengambilan kebijakan di BPH Migas agar adanya penambahan kuota BBM khususnya di Pulau Sebatik," janjinya.
Minimnya, kuota BBM untuk masyarakat dibenarkan pedangan bensin eceran, Afid. Selama ini, untuk memenuhi permintaan masyarakat atas BBM, ia menjual BBM asal Malaysia. Meskipun harganya berbeda dengan BBM milik Indonesia lebih murah.
"Masalah utama bukan hanya soal harga, tetapi ketersediaan. Meski bensin Indonesia lebih murah, namun pasokannya tidak stabil. Dalam seminggu stok di toko bisa habis. Kadang baru datang lagi setelah dua minggu," ungkapnya.
Baginya, ketergantungan terhadap BBM Malaysia juga dialami para nelayan yang membutuhkan pasokan stabil untuk melaut. Sementara, minimnya ketersediaan BBM Indonesia membuat masyarakat tidak punya pilihan lain.
"Kalau pasokan dari Malaysia dihentikan, pertanyaannya apakah BBM Indonesia mampu memenuhi kebutuhan masyarakat? Faktanya, tidak,” tegasnya.
Senada yang disampaikan H. Abdullah pemilik APMS di Desa Aji Kuning, Sebatik Tengah mengungkapkan bahwa dalam sebulan, ia hanya melayani satu kali. Dan jumlah kuota yang dijual ke masyarakat 100 kiloliter (kl).
"Kita di Sebatik ini ada 5 agen penyalur. Jika ada 1 agen yang melayani, 4 agen ini tidak melayani. Begitu yang dilakukan pihak Pertamina agar tidak ada kekosongan," tutupnya. (akz)
Editor : Azwar Halim