NUNUKAN - Komisi II DPRD Nunukan melakukan mediasi antara asosiasi peternak ayam potong dengan mitra atau pihak perusahaan. Ini dilakukan lantaran adanya permohonan mediasi yang diterima Komisi II, DPRD Nunukan.
Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam menyampaikan pihaknya membantu memfasilitasi antar Asosiasi Peternak Ayam Potong Kabupaten Nunukan dengan kemitraan ayam potong yaknk MSC. Upaya mediasi ini dilakukan terkait perbedaan harga.
"Kami menerima surat dari Asosiasi Peternak Ayam Potong Nunukan terkait penolakan adanya perusahaan kemitraan ayam potong yakni MSC. Alasannya, peternak menganggap masuknya MSC merusak atau menurunkan penghasilan para peternak," ucap Andi Fajrul kepada Radar Tarakan, Rabu (5/11).
Dijelaskan, berdasarkan informasi dari peternak harga beli di kandang Rp 32 ribu. Sementara, MSC menggunakan bendera TMS informasinya memberikan harga 25 ribu di kandang.
"Jika perang-perangan harga merugikan peternak. Kami mediasi. Alhamdulillah ada langkah yang kita lakukan. Pertama, meminta TMS merapat barisan bersama peternak terkait penetapan harga beli di kandang agar tidak terjadi kisrus di lapangan," jelasnya.
Dijelaskan, harga jual di kandang Rp 32 ribu itu berdasarkan sejumlah pertimbangan. Mulai dari tranportasi hingga biaya pakan. Dan jika di harga Rp 32 ribu peternak baru mendapatkan untung.
"Pertimbangan ketua forum asosiasi peternak ayam meminta harga di Rp 32 ribu itu karena biaya pakan dan transportasi mahal. Jika Rp 32 ribu baru ada dapat untung, itu yang diharapkan," tambahnya.
Lanjutnya, hasil mediasi juga menginginkan adanya kerjasama. Dengan begitu tidak terjadi perang harga. Sebab, peternak ini juga masyarakat yang harus disejahterakan.
"Peternak ini ambil pakan dari Tarakan. Yang diinginkan agar tidak terjadi perang harga. Perwakilan yang hadir dari perusahaan sudah setuju. Namun, menunggu keputusan manajemen. Sebab, pengambilan keputusan ada di Berau. Dan DPRD akan mengeluarkan berita acara atau rekomendasi. Jika tidak ada kesepakatan nantinya, DPRD Nunukan akan kunjungan ke manajemen di Berau," pungkasnya. (akz)
Editor : Azwar Halim