Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Produksi Anjlok, Petani Rumput Laut di Mamolo Hentikan Budidaya

Riko Aditya • Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:45 WIB
DOK RADAR TARAKAN  BUDIDAYA RUMPUT LAUT: Produksi yang menurun membuat sejumlah petani rumput laut mengambil langkah gantung tali
DOK RADAR TARAKAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT: Produksi yang menurun membuat sejumlah petani rumput laut mengambil langkah gantung tali

NUNUKAN – Sejumlah petani rumput laut di pesisir Mamolo, Nunukan Selatan, disebut menghadapi masa sulit. Selama beberapa bulan terakhir, hasil panen menurun tajam akibat pertumbuhan rumput laut yang tidak lagi normal, sementara harga jual di tingkat petani belum juga membaik.

Itu diungkapkan salah satu petani di Mamolo, Kamaruddin. Dirinya menyebutkan, kondisi ini telah berlangsung berbulan-bulan dan membuat sebagian besar petani terpaksa menghentikan aktivitasnya.

“Rumput laut sekarang tumbuhnya lambat dan cepat rusak sebelum panen. Banyak yang akhirnya menggantung tali karena hasilnya tidak sebanding dengan biaya,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (31/10).

Rumput laut yang biasanya bisa dipanen dalam waktu tiga minggu kini membutuhkan waktu hampir dua kali lebih lama. Sebagian bibit bahkan gagal tumbuh dan mengering di laut. Para petani menduga, penurunan produksi dipicu oleh perubahan kualitas air laut, pengaruh cuaca ekstrem, serta menurunnya mutu bibit yang digunakan.

Kamaruddin menuturkan, para petani sebenarnya telah melaporkan persoalan ini kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan. Namun hingga kini, belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk meneliti penyebab dan mencari solusi jangka panjang.

“Kalau mau tahu penyebab pastinya, harus diuji di laboratorium. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkapnya.

Kamaruddin juga mengungkapkan, keterbatasan bibit unggul menjadi masalah lain yang memperparah situasi. Banyak petani sudah kehabisan bibit lokal, sementara bibit dari luar daerah berharga mahal dan belum tentu cocok dengan kondisi perairan Mamolo. Akibatnya, sebagian besar petani kini menghentikan budidaya untuk sementara.

Selain itu, harga jual rumput laut kering di tingkat petani juga belum stabil. Saat ini, harga hanya berkisar antara Rp. 14.000 hingga Rp. 16.000 per kilogram, tergantung kualitas. Kenaikan harga yang tidak sebanding dengan penurunan hasil panen membuat petani tetap merugi.

Kamaruddin pun berharap, pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ini dengan menyediakan bibit unggul dan melakukan penelitian kualitas air laut di perairan Mamolo.

Selama ini, budidaya rumput laut menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Nunukan. Jika kondisi tersebut dibiarkan, penurunan produksi dikhawatirkan akan berdampak besar terhadap kesejahteraan keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil laut tersebut.

“Kami tidak minta bantuan uang, cukup bantu bibit dan cari tahu apa penyebab rumput laut tidak subur,” harap kamaruddin. (raw)

Editor : Azwar Halim
#rumput laut #kaltara #petani #nunukan #produksi