Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Nunukan Sudah Menjadi Rumah Sementara Bagi Korban Migrasi Gagal

Riko Aditya • Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:06 WIB
FOTO NARSUM Kepala DSP3A Nunukan, Faridah Ariyani
FOTO NARSUM Kepala DSP3A Nunukan, Faridah Ariyani

NUNUKAN – Kabupaten Nunukan seperti kian menegaskan perannya sebagai rumah sementara bagi para pekerja migran yang gagal menjemput harapan di negeri seberang. 

Itu terbukti dari data Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, hingga September 2025, sedikitnya sudah ada 38 orang terlantar yang telah ditangani dan dipulangkan.

Mereka datang dengan berbagai kisah. Ada yang kehilangan pekerjaan, menjadi korban penipuan, bahkan sebagian terjebak jaringan perdagangan orang (TPPO). Setelah dideportasi dari Malaysia, Nunukan menjadi tempat pertama mereka berpijak kembali di tanah air.

Kepala DSP3A Nunukan, Faridah Ariyani, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah tidak bisa menutup mata terhadap situasi kemanusiaan tersebut.

“Mereka datang dalam kondisi lemah dan tanpa bekal. Pemerintah wajib hadir untuk menolong dan memulangkan mereka ke keluarganya,” ujarnya, Minggu (26/10).

Faridah menuturkan, meski tugas tersebut merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesejahteraan sosial, pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan. Keterbatasan anggaran membuat DSP3A harus bekerja ekstra mencari cara agar proses pemulangan tetap berjalan.

“Kadang kami bekerja sama dengan instansi lain atau meminta dukungan logistik dari lembaga sosial. Yang penting mereka bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat,” kata Faridah.

Nunukan memang kerap menjadi pintu terakhir bagi para pekerja migran non-prosedural yang gagal di Malaysia. Setiap tahun, mereka datang silih berganti. Di balik angka deportasi, tersimpan cerita kehilangan dan perjuangan untuk pulang.

Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap, penanganan orang terlantar tidak hanya berhenti di pemulangan, tetapi juga diikuti langkah pencegahan di daerah asal. Edukasi tentang migrasi aman dan pemberantasan calo tenaga kerja perlu diperkuat agar kisah serupa tidak terus berulang.

“Nunukan hanya titik akhir, akar masalahnya ada di hulu, di desa-desa tempat mereka berangkat tanpa dokumen resmi, berantasnya harus dari sana dulu” beber Faridah. (raw) 

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #korban #migrasi