Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Hilirisasi Perikanan Jadi Transformasi Pertumbuhan Ekonomi di Perbatasan

Asrullah RT • Kamis, 16 Oktober 2025 | 17:19 WIB

 

Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, BNPP  Irjen Pol Edfrie R Maith
Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, BNPP Irjen Pol Edfrie R Maith

NUNUKAN - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) terus melakukan sejumlah upaya agar masyarakat di perbatasan negara berperan aktif menjadi penggerak ekonomi yang mampu memberikan kontribusi pada pertumbuhan pendapatan negara.

Pada sektor kelautan dan perikanan, pembangunan infrastruktur, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga pelatihan wirausaha terus didorong. Ini diharapkan menjadi modal awal dalam memanfaatkan berbagai potensi untuk berdagang dengan negara tetangga. 

Dan penyelarasan regulasi dan optimalisasi fungsi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang sudah diresmikan menjadi langkah lanjutan yang dinilai krusial. Hal ini agar membuka akses pasar dan hilirisasi produk dalam negeri bersaing di perdagangan global.

Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, BNPP, Irjen Pol Edfrie R Maith, menyampaikan akan menyelesaikan berbagai hambatan, termasuk mendorong diplomasi agar Malaysia membuka pos lintas batas yang menjadi counterpart dari PLBN Sebatik. 

Selain itu, masalah lainnya adalah pintu masuk utama pada kawasan perbatasan lainnya masih terbatas. 

"Kami perlu memikirkan penambahan cold storage, pembangunan dermaga baru, dan jalur resmi, agar pergerakan barang dan orang lebih tertib serta mengurangi jalur tikus yang berpotensi dimanfaatkan untuk penyelundupan," ucap Irjen Pol Edfrie R Maith belum lama ini.

Selain itu, ia juga menyoroti perlunya pengolahan lanjutan agar kualitas potensi unggulan lebih meningkat dengan harga yang bersaing. Hal ini akan secara otomatis membuka peluang lapangan kerja baru.

Khusus Kabupaten Nunukan, lanjutnya, potensi perikanan budidaya merupakan yang terbesar. Dengan rumput laut masih menjadi unggulan. Produksi pada 2024 bahkan mencapai 60.000 ton rumput laut kering.

Kemudian, dalam waktu 45 hari produk rumput laut dari Nunukan sudah dapat dipanen dan berhasil menembus pasar global. Seperti Tiongkok dan Eropa. Tetapi, alur ekspor masih harus menempuh Surabaya dan Makassar yang berdampak pada mahalnya ongkos kirim. 

"Tantangan hari ini adalah harga yang menurun akibat ketidakstabilan kondisi dunia," ungkapnya. 

Kemudian, untuk pengembangan potensi wisata bahari, hampir seluruh kecamatan dan desa di Nunukan memiliki Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW).

Pengembangan pariwisata diarahkan untuk menjadikan Nunukan sebagai destinasi berkelanjutan dan berdaya saing.

"Potensi wisata alam, budaya, sejarah tersebar di berbagai wilayah seperti Krayan, Sebatik, Sebuku dan Nunukan," jelasnya.

Adapun tantangan dalam pengembangan pariwisata yakni terbatasnya infrastruktur dan aksesibilitas seperti jalan. "Sinergi antar sektor menjadi kunci agar Nunukan mampu menjadi pintu gerbang ekonomi sekaligus benteng kedaulatan negara di wilayah perbatasan." tutupnya. (akz)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #pertumbuhan ekonomi