Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Melihat Langsung Lomba Sumpit Yang Digelar di Nunukan - SUB

Radar Tarakan • Rabu, 15 Oktober 2025 | 14:51 WIB

 

RIKO ADITYA/RADAR TARAKAN  PERLOMBAAN MENYUMPIT: Sekitar 100 peserta ikut dalam lomba sumpit yang digelar di Nunukan.       Ketika Senjata Leluhur Menjadi Ajang Lomba di Nunukan
RIKO ADITYA/RADAR TARAKAN PERLOMBAAN MENYUMPIT: Sekitar 100 peserta ikut dalam lomba sumpit yang digelar di Nunukan.     Ketika Senjata Leluhur Menjadi Ajang Lomba di Nunukan

NUNUKAN - Terdapat pertandingan yang berbeda dari biasanya sedang berlangsung di luar GOR Dwikora Nunukan Selatan, terlihat deretan sumpit panjang berdiri tegak. Ujung-ujungnya mengarah ke sasaran bundar di kejauhan.

Satu per satu peserta menarik napas panjang, lalu meniup pelan, anak sumpit melesat cepat, menancap tepat di tengah target. Sorak penonton pecah, menandai bukan sekadar kemenangan, tapi napas budaya yang terus hidup.

Bagi masyarakat Dayak Lundayeh di Krayan, sumpit bukan hanya alat, tapi lambang ketepatan, kesabaran, dan keterikatan manusia dengan alam.

Alat sederhana dari kayu dan besi ini dulu digunakan untuk berburu dan bertahan hidup di hutan, bahkan sebagai senjata dalam masa peperangan tradisional.

Kini, sumpit mendapat wajah baru, menjadi ajang lomba budaya yang digelar setiap perayaan besar, seperti HUT Kabupaten Nunukan kali ini.

“Sumpit ini warisan orang tua kami sejak dulu. Sayangnya, pemuda sekarang sudah banyak yang tidak tertarik. Karena itu kami adakan lomba supaya mereka ikut terlibat dan belajar,” tutur Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli ketika diwawancarai saat lomba, Rabu (15/10).

Lomba sumpit kali ini diikuti sekitar seratus peserta dari berbagai kecamatan di Nunukan termasuk dari Kabudaya dan Kecamatan Krayan sendiri.

Tak hanya adu ketepatan mengenai sasaran, tapi juga menjadi ruang belajar tentang bagaimana alat ini dibuat dan digunakan secara tradisional. Pesertanya datang bukan hanya untuk menang, tapi untuk menyentuh kembali bagian dari identitas mereka sendiri.

Oktavianus menjelaskan, pembuatan sumpit memerlukan ketelitian dan waktu. Satu sumpit bisa dibuat selama seminggu penuh, dengan lubang panjang di tengahnya yang dibentuk menggunakan alat tradisional.

Bahan utama sumpit adalah kayu nian atau nato, jenis kayu keras yang tahan panas dan tidak mudah melengkung. “Kalau kayu biasa cepat rusak, tapi kayu nian kuat dan awet meski sering kena panas,” ujarnya.

Sementara mata anak sumpit, dibuat dari besi agar kuat menembus sasaran. Menariknya, alat ini juga bisa disulap menjadi tombak bila diperlukan.

Dalam tradisi lama, masyarakat Krayan menggunakan racun alami dari tanaman hutan untuk melumpuhkan hewan buruan. Campurannya diramu secara turun-temurun, dengan takaran yang tidak sembarangan.

“Kalau hewan kena racunnya, lima menit saja sudah mati. Itu hasil racikan leluhur yang masih kami kenal sampai sekarang,” kata Oktavianus.

Nilai sumpit tak hanya terletak pada bentuknya, tapi juga filosofi di baliknya. Bagi masyarakat Krayan, sumpit mengajarkan konsentrasi dan kendali diri. Tiupan yang terlalu keras atau terlalu lembut bisa membuat arah meleset, seperti kehidupan, di mana keseimbangan adalah kunci.

 Kini, sumpit menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda. Setiap lomba adalah kesempatan untuk mengenalkan warisan, bukan sekadar mengasah keterampilan.

“Anak muda perlu tahu bahwa budaya itu bukan cerita lama. Mereka bagian dari pewarisnya,” tambah Oktavianus.

Selain bernilai budaya, sumpit juga memiliki nilai ekonomi. Harga satu sumpit tradisional bisa mencapai Rp. 1 juta, tergantung pada jenis kayu dan kehalusan pengerjaan.

Namun bagi masyarakat Krayan, nilai sejatinya jauh melampaui angka, karena setiap sumpit membawa kisah, sejarah, dan tangan-tangan yang menjaganya.

Krayan Selatan sendiri dikenal dengan kekayaan alam dan budayanya, dari beras Adan, kopi Krayan, garam gunung, hingga hutan alami yang masih lestari. Hubungan manusia dan alam di sini bukan sekadar kebutuhan hidup, tapi bagian dari cara berpikir dan bernafas.

“Segala sesuatu di Krayan sudah disediakan alam. Tinggal bagaimana kita menjaga dan memanfaatkannya dengan bijak,” ungkap Oktavianus.

Namun, akses menuju wilayah ini masih menjadi kendala besar. Jalan menuju sumber garam dan kebun masyarakat sebagian masih berupa jalan setapak yang sulit dilalui, bahkan menjadi jalur penghubung menuju perbatasan Malaysia. Ia berharap perhatian pemerintah agar potensi dan budaya lokal bisa terus berkembang. (***)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #dwikora #LOMBA SUMPIT