Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Lomba Sumpit Digelar di Nunukan, Jadi Sarana Pelestarian Budaya Dayak dan Tarik Minat Generasi Muda

Riko Aditya • Senin, 13 Oktober 2025 | 13:16 WIB
UJI KETEPATAN: Salah satu perlombaan sumpit yang pernah digelar di Krayan, Rabu mendatang akan digelar di Nunukan FOTO:DOKUMENTASI AMOS       
UJI KETEPATAN: Salah satu perlombaan sumpit yang pernah digelar di Krayan, Rabu mendatang akan digelar di Nunukan FOTO:DOKUMENTASI AMOS     

NUNUKAN - Kabupaten Nunukan kembali menggelar lomba sumpit sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Dayak.

Kegiatan ini akan berlangsung pada hari Rabu di GOR bertepatan dengan HUT Nunukan, dimana menarik minat lebih dari puluhan peserta dari berbagai wilayah.

Hingga menjelang pelaksanaan, pendaftaran masih dibuka dan panitia memberi kesempatan bagi peserta tambahan, termasuk dari luar daerah.

Dewan Juri Lomba Sumpit, Amos Balang, menjelaskan bahwa olahraga sumpit merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat Dayak.

Tradisi ini telah lama hadir dan selalu tampil dalam berbagai perayaan besar seperti hari ulang tahun kabupaten serta berbagai acara adat dan masyarakat.

Menurutnya, keberadaan sumpit dalam kegiatan besar, adalah bentuk nyata pelestarian budaya yang masih hidup dan dijalankan.

“Setiap ada kegiatan kabupaten atau hari besar, sumpit selalu ada. Itu bagian dari budaya masyarakat yang tidak terlepas dari acara-acara besar maupun kegiatan kemasyarakatan,” ujar Amos ketika diwawancarai, Senin (13/10). 

Dirinya juga menegaskan bahwa sumpit telah dikenal secara luas tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Karena penyebaran dan pengenalan tersebut, sumpit kini dianggap sebagai salah satu olahraga nasional yang berbasis warisan budaya.

Di tingkat nasional, sumpit juga telah tergabung dalam Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI), yang menjadi wadah bagi pengembangan olahraga tradisional.

Selain sebagai olahraga, sumpit memiliki sejarah panjang sebagai alat berburu. Masyarakat Dayak secara turun-temurun menggunakan sumpit untuk berburu hewan seperti payau, kijang, babi, dan monyet.

Racun yang digunakan pada anak sumpit berasal dari tumbuhan alami, dan kekuatannya dapat diatur sesuai kebutuhan. Dalam konteks lomba, racun tidak digunakan, dan penilaian hanya difokuskan pada ketepatan peserta dalam mengenai sasaran.

Amos menjelaskan bahwa sumpit tradisional dibuat dari bahan khusus dan pengerjaannya tidak bisa sembarangan. Setiap bagian alat memiliki fungsi dan nilai budaya yang erat dengan kehidupan masyarakat.

“Jadi pada zaman dahulu itu, sumpit juga digunakan dalam hal pertahanan atau peperangan, sebelum akhirnya lebih dikenal sebagai alat berburu, sekarang sudah berkembang sebagai cabang olahraga tradisional,” ungkap Amos.

Hingga saat ini, sudah ada beberapa peserta yang telah mendaftar untuk mengikuti perlombaan.

Peserta berasal dari berbagai latar belakang dan suku, termasuk masyarakat Krayan. Panitia pun optimistis jumlah pendaftar akan terus bertambah hingga pelaksanaan, karena minat masyarakat terhadap olahraga sumpit cukup tinggi.

“Kita masih menerima peserta sampai hari Rabu. Antusiasme masyarakat besar sekali, karena olahraga sumpit ini digemari dan dikenali banyak orang,” tambah Amos.

Perlombaan akan menilai ketepatan peserta dalam mengenai target yang telah disiapkan. Semua alat sumpit yang digunakan akan disediakan panitia untuk memastikan keseragaman perlengkapan dan kenyamanan peserta.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghidupkan budaya lokal, tetapi juga memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal dan memahami sejarah sumpit.

Menurut Amos, generasi muda kini mulai tertarik pada olahraga tradisional ini. Namun tanpa wadah yang tepat, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. 

“Kalau generasi muda tidak diberi ruang, mereka nanti tidak tahu. Dengan lomba ini, kita lestarikan budaya sumpit supaya tidak hilang,” bebernya.

Panitia juga berharap ke depannya kegiatan ini bisa menarik peserta dari luar daerah dan menjadi agenda budaya yang lebih luas.

Selain menjaga identitas budaya masyarakat Dayak, lomba sumpit juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya dan sarana perekat antar komunitas. (raw)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #generasi muda #budaya Dayak #nunukan #pelestarian #LOMBA SUMPIT