NUNUKAN – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Nunukan tahun ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan rakyat, melainkan wujud nyata semangat masyarakat menjaga identitas dan keberagaman budaya di daerah perbatasan.
Melalui pawai budaya yang digelar Pemerintah Daerah bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Nunukan, ratusan peserta dari berbagai kalangan menampilkan kekayaan tradisi dan keunikan lokal yang menjadi ciri khas Bumi Penekindi Debaya, Sabtu (11/10).
Mengusung tema “Merajut Hubungan Harmoni melalui Interaksi Budaya untuk Energi Maju Nunukan Maju”, pawai budaya kali ini menonjolkan kolaborasi antara unsur tradisional dan modern.
Sejumlah peserta tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai etnis seperti Tidung, Bugis, Toraja, dan Dayak, berpadu dengan penampilan pelajar yang mengenakan busana profesi dan seragam khas daerah.
Arak-arakan dimulai dari Pelabuhan Tunon Taka dan melintasi pusat kota hingga Jalan Bahari Tanah Merah dengan jarak sekitar tiga kilometer.
Sebanyak 96 kelompok terlibat dalam pawai tersebut, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, hingga komunitas masyarakat dan instansi pemerintahan.
Bagi banyak peserta, keterlibatan mereka bukan hanya tentang tampil, tetapi juga menunjukkan kecintaan terhadap daerah dan rasa memiliki terhadap Nunukan.
Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, bersama pejabat daerah dan Forkopimda, tampak hadir di garis finis untuk menyambut peserta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pawai budaya menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman masyarakat Nunukan.
“Di usia ke-26 ini, kita harus terus merawat semangat kebersamaan dan gotong royong. Keberagaman budaya adalah kekuatan kita untuk memajukan Nunukan,” ucap Bupati.
Bagi warga, kegiatan seperti ini menjadi ruang bersama yang mempererat hubungan antara pemerintah dan rakyat.
“Bukan cuma hiburan, tapi juga mengingatkan kita bahwa Nunukan ini dibangun oleh banyak suku dan latar belakang,” ujar Haris, warga yang menonton bersama keluarganya.
Dirinya berharap momentum HUT ini menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga penguatan karakter masyarakat.
Pawai budaya tahun ini menegaskan bahwa pembangunan Nunukan tidak hanya berfokus pada sektor fisik, tetapi juga pelestarian nilai-nilai sosial dan budaya. Dalam semangat itulah, perayaan HUT ke-26 menjadi refleksi perjalanan panjang sebuah daerah perbatasan yang terus tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya. (raw).
Editor : Azwar Halim