NUNUKAN - Kampung Rumput Laut di Mamolo, Nunukan, kembali diguncang insiden serangan buaya. Seorang pekerja rumput laut diterkam saat mencuci tali pengikat bibit di laut, Rabu (3/9) kemarin.
Korban yang sempat diseret ke air akhirnya berhasil diselamatkan warga, meski menderita luka pada bagian kaki.
Kejadian bermula ketika korban turun ke laut di saat air surut. Tiba-tiba seekor buaya muncul dari bawah permukaan, langsung menggigit dan menggulingkan tubuhnya.
“Kami panik melihat korban diputar-putar di air. Untungnya beberapa orang cepat menolong, kalau tidak mungkin lain ceritanya,” jelas Kamaruddin, warga Mamolo ketika dihubungi, Kamis (4/9).
Setelah berhasil dilepaskan dari gigitan, korban segera dievakuasi ke darat. Ia lalu dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat perawatan.
Untungnya kondisi korban dinyatakan stabil, namun tetap harus menjalani pengobatan akibat luka robek di kakinya.
Kamaruddin menuturkan, serangan buaya di perairan Mamolo bukan hal baru. Populasi predator air itu disebut semakin sering muncul di sekitar area budidaya rumput laut, bahkan telur buaya kerap ditemukan di bawah lantai jemuran.
“Ancaman ini nyata sekali, sementara warga tiap hari tetap harus bekerja di bawah sungai. Rasanya keselamatan kami selalu dipertaruhkan,” tuturnya.
Dirinya juga mengingatkan bahwa beberapa tahun lalu, serangan serupa pernah merenggut nyawa seorang warga Mamolo.
Bahkan saat itu buaya yang menyerang dikait-kaitkan dengan buaya jinak. Dari peristiwa tragis itu, seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk segera bertindak.
Di tengah keresahan tersebut, warga Mamolo juga masih dibebani harga rumput laut yang terus merosot. Dari sempat berada di atas Rp 15 ribu per kilogram, kini hanya berkisar Rp 12 ribu.
“Harga anjlok, ancaman buaya semakin parah, sementara rencana penangkaran buaya yang dulu sempat dijanjikan tak pernah jelas sampai sekarang, bagaimana ini,” keluh Kamaruddin. (raw)
Editor : Azwar Halim