NUNUKAN – Di tengah arus digitalisasi yang kian cepat, sejumlah wilayah di Nunukan malah masih terbilang tertinggal jauh, terjebak dalam zona blank spot yang membuat akses internet menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Kondisi ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Nunukan, Kaharuddin, saat menerima kunjungan Tim Indosat dalam agenda pemaparan program “Seribu Desa Digital”, Kamis (24/7).
"Masih banyak titik di Nunukan yang belum tersentuh layanan internet. Medan yang sulit dan keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan utama," ujar Kaharuddin.
Ia menyoroti bahwa problem ini bukan semata soal teknis, tetapi juga soal kewenangan. Infrastruktur telekomunikasi, seperti pembangunan menara BTS, masih berada di bawah kendali pemerintah pusat dan operator telekomunikasi.
“Daerah hanya bisa mendorong dan mengusulkan, tapi keputusan tetap di pusat dan di tangan penyedia layanan,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Kaharuddin sempat menyinggung teknologi satelit seperti Starlink yang secara teknis bisa menjadi solusi. Namun, ia mengakui biaya langganannya belum ramah kantong masyarakat desa.
Menanggapi kondisi tersebut, perwakilan Indosat, Sugianto, memperkenalkan program “Seribu Desa Digital” yang tengah digalakkan secara nasional. Program ini mengusung tiga pilar utama, yakni Keluarga Digital, Sekolah Digital, dan Pasar Digital.
“Kami ingin internet menjadi alat pemberdayaan masyarakat. Program ini bertujuan menghadirkan konektivitas digital yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk di wilayah 3T,” jelas Sugianto.
Ia mengungkapkan bahwa jaringan Indosat telah menjangkau sekitar 90 persen wilayah Kalimantan, namun untuk Nunukan, cakupannya baru mencapai sekitar 65 persen.
“Kami ingin semua keluarga di Nunukan mendapatkan akses internet yang merata. Tapi tentu, perlu sinergi dengan pemerintah daerah agar pembangunan jaringan berjalan efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Kaharuddin pun menyambut baik inisiatif Indosat, namun menegaskan pentingnya langkah konkret.
“Kami tidak hanya ingin mendengar pemaparan program, tapi juga melihat aksi nyata. Kami siap berkolaborasi untuk mewujudkan desa-desa digital di wilayah perbatasan,” ujarnya.
Ia berharap, program seperti ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan menjadi solusi nyata yang menjembatani ketimpangan digital di wilayah perbatasan seperti Nunukan.
Sebab, bagi masyarakat di pelosok, konektivitas bukan sekadar soal teknologi, melainkan jendela menuju peningkatan kualitas hidup dan kemajuan ekonomi. (raw)
Editor : Azwar Halim