NUNUKAN - Upaya mengantisipasi adanya Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan (ATHG) di Nunukan terus dilakukan. Seperti yang dilakukan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Nunukan melalui rencana pembentukan Forum Pemuda Lintas Agama (Pelita).
Kepala Badan Kesbangpol Nunukan, Hasan Basri Mursali menyampaikan Pelita akan menjadi wadah bagi anak anak muda dalam menangkal radikalisme, narkoba, dan potensi tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Nunukan yang merupakan daerah perbatasan.
"Adanya deteksi dini sangat berguna. Misal, adanya aliran radikal kita bisa langsung mencegah. Kemudian, adanya ancaman peredaran narkoba bisa dicegah. Makanya kami menginisiasi membentuk Pelita. Karena isu agama kerap dijadikan sumber perpecahan. Tidak hanya di Indonesia tadi sejumlah negara. Kita tidak ingin itu terjadi di daerah kita," ucap Hasan Basri.
Dijelaskan, hadirnya Pelita diharapkan menjadi benteng atau pondasi terhadap ancaman seperti paham radikal, peredaran narkoba dan lainnya. Untuk itu, upaya menciptakan Nunukan tetap aman dan nyaman terus dilakukan.
"Apalagi kita berada di daerah perbatasan beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kalau ini aman maka itu menjadi cerminan dari negara kita terhadap negara tetangga. Kita akan berharap dengan kegiatan-kegiatan seperti ini dengan upaya deteksi dini akan menjadi media untuk bagaimana supaya daerah kita tetap aman dan nyaman untuk ditinggali," pesannya.
Lanjutnya, Pelita ini juga ada disejumlah wilayah di Indonesia. Misal, Jogjakarta, Berau dan Tarakan. Namun, Pelita yang diinisiasi memiliki pendekatan yang berbeda dengan daerah lain.
Sebab, apa yang dilakukan telah terintegrasi dengan program kerja Kesbangpol dan masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Karena itu, pihaknya optimistis akan terus berlanjut.
"Program ini kami yakin akan berterusan selagi masih ada dalam RPJMD dan Renstra (Rencana Strategis) berlaku hingga 5 tahun," yakinnya.
Dan salah satu fokus pada kerukunan antar umat beragama karena melihat kondisi wilayah yang cukup rentan akan isu agama yang dapat membuat perpecahan.
"Fokus pertama kita rekatkan dulu pemuda lintas agama. Kita bersinergi dengan Kementerian Agama. Sumber pertama kita mengedukasi para pemuda agar tidak tersentuh pada paham radikal, hal yang negatif. Ini yang kita bangun melalui pemuda lintas agama," pungkasnya. (akz)
Editor : Azwar Halim