Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Konsulat RI Tawau Ajak Semua Pihak Atasi Kendala Akses dan Mutu Pendidikan bagi Anak Indonesia di Sabah

Asrullah RT • Senin, 12 Mei 2025 | 16:56 WIB
PENDIDIKAN ANAK PMI: Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo saat melakukan kegiatan Consulate goes to Community Learning Center (CLC) di CLC Tunas Perwira Di Kampung Apas, Tawau
PENDIDIKAN ANAK PMI: Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo saat melakukan kegiatan Consulate goes to Community Learning Center (CLC) di CLC Tunas Perwira Di Kampung Apas, Tawau

NUNUKAN - Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Sabah, Malaysia sekira 500 ribu orang. Rerata WNI ini bekerja di sektor perkebunan. Selain bekerja ada anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang membutuhkan pendidikan.

Konsul RI Tawau Aris Heru Utomo menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia sangat memberikan perhatian terkait perlunya akses pendidikan bagi anak-anak PMI. Seperti mendorong dibangunnya tempat kegiatan belajar bagi anak-analk PMI yang disebut sebagai Community Leraning Center (CLC).

Sebab, hadirnya CLC, semua anak-anak PMI mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan formal hingga kelas 3 SMP. Selanjutnya diarahkan untuk menempuh pendidikan jenjang SLTA di Indonesia.

"Terkait kendala mutu pendidikan, Konsul RI Tawau mendorong upaya peningkatan kompetensi para guru melalui pelatihan ataupun mendorong para guru untuk belajar kembali, antara lain lewat UT," ucap Aris Heru Utomo.

Dijelaskan, dalam upaya mengatasi kendala dan tantangan yang ada, pihaknua memandang perlu adanya partisipasi. Baik dari Konsulat RI, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), LSM, ataupun Organisasi Komunitas dalam memainkan perannya masing masing secara maksimal.

Selain itu perlu dikembangkan kemitraan dengan institusi lokal di Sabah. "Dibutuhkan sinergi berkelanjutan dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan lokal untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara inklusif ," jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan inovasi dan solusi yang dapat dilakukan yang meliputi pembelajaran berbasis digital untuk menjangkau wilayah terpencil, kurikulum konstektual yang menggabungkan nilai Indonesia dan adaptasi lokal.

Pendidikan vokasi berbasis kebutuhan komunitas migran, dan sistem pelaporan dan pemetaan siswa yang lebih akurat.

Aris Heru Utomo pun menyampaikan bahwa dalam upaya mengatasi kendala seperti status hukum dan ketiadaan dokumen anak-anak PMI, Konsulat RI secara aktif turun ke lapangan untuk memberikan pelayanan dokumen yang diperlukam.

"Antara lain dengan mengeluarkan Surat Bukti Pencatatan Kelahiran (SBPK) sebagai bukti status kewarganegaraan Indonesia seorang anak," pungkasnya. (akz)

Editor : Azwar Halim
#wni #kaltara #nunukan #tawau