Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

CLC Minim Tenaga Pengajar, KRI Tawau Pastikan Hak WNI Terjamin

Asrullah RT • Kamis, 24 April 2025 | 13:59 WIB
MENYAPA : Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo saat bertemu anak PMI yang mengenyam pendidikan di salah satu CLC di wilayah Tawau, Malaysia.
MENYAPA : Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo saat bertemu anak PMI yang mengenyam pendidikan di salah satu CLC di wilayah Tawau, Malaysia.

NUNUKAN - Lankah Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau memberikan pelayanan dan perlindungan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) di Tawau, Malaysia terus dimaksimalkan.

Sebab, selain memastikan WNI khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) memiliki dokumen dan izin kerja yang sah. KRI Tawau juga memastikan hak WNI terjamin. Seperti hak anak PMI mengenyam pendidikan.

Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo menyampaikan pihaknya terus memfasilitasi pendidikan untuk anak PMI yang berada di wilayah kerjanya. Dimana, anak PMI melanjutkan pendidikan melalui Community Learning Center (CLC).

Hadirnya CLC ini berdasarkan nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia pada 2011 silam.

"Pihak Pemerintah Malaysia dalam hal ini Pemerintah Sabah memberikan izin untuk mendirikan atau membuat CLC semacam sekolah untuk anak-anak Indonesia. Nah pengelolaannya atau pengadaannya ini bekerjasama dengan pihak perkebunan," ucap Aris Heru Utomo.

Dijelaskan, pihak serikat atau perusahaan ini menyiapkan sarana dan prasarana. Seperti, gedung sekolah alat-alat tulis dan perangkat lain. Sementara, tenaga pengajar disiapkan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dibandingkan dengan jumlah CLC tidak sebanding.

"Kemendikdasmen mengirimkan guru-guru tiap tahun dibiayai oleh pemerintah kita, digaji oleh pemerintah termasuk dalam operasional semacam dan BOS. Namun, jumlah guru tidak cukup. Karena, diseluruh Sabah ada sekitar 200 lebih CLC. Untuk wilayah kerja Tawau ada sekitar 101 CLC. Tenaga guru yang dikirim dari Indonesia yang sekarang ini ada itu hanya sekitar 150-an sementara tahun mungkin sekitar 80-an. Artinya separuh itu tidak ada guru Indonesia," jelasnya.

Karena kondisi ini, satu guru bisa bertugas 2 sampai 3 sekolah atau CLC. Sehingga, KRI Tawau mendorong pihak perkebunan untuk membantu menyiapkan tenaga bantu atau disebut tenaga guru pamong. Tenaga guru pamong ini direkrut dan digaji pihak perkebunan.

"Jadi mereka ini sebetulnya dianggap sebagai pegawai perkebunan tapi tugasnya dalam membantu guru Indonesia guru Indonesia ini disebut sebagai guru bina. Biasanya kalau perusahaan-perusahaan besar kayak sawit di Kinabalu itu mereka bisa membantu satu sekolah 3 hingga 4 guru pamong dan ini sudah sangat membantu, " bebernya.

Baginya, tenaga guru sangat dibutuhkan. Sebab, jumlah kelas yang ditangani mulai dari kelas 1 hingga 9. Jika disetiap CLC hanya ada satu guru tentunya tidak akan maksimal. Dengan kondisi ini pihaknya telah menyampaikan ke Kemendikdasmen.

"Mereka kan ngajar kelas 1 sampai kelas 9. Kalau mereka bekerja sendiri apalagi bisa dua sekolah akan kesulitan makanya dibantu pihak perkebunan. Alhamdulillah sampai sekarang cukup membantu. Namun demikian kami juga selalu mengingatkan Kemendikdasmen kalau bisa jumlah guru yang dikirimkan itu sesuai dengan jumlah CLC yang ada. Kalau memang jumlah clc-nya 200 paling tidak tersedia 200. Kami juga maklum anggaran di Jakarta apalagi sekarang ada efisiensi," kisahnya.

"Jika guru yang pulang 50 diganti dengan 50 guru biasanya agak susah. Biasanya pulang 50 datang penggantinya 30 atau mungkin 25 orang. Semakin ke sini turun terus, itu yang menjadi keprihatinan kami. Tapi kami selalu mengingatkan kalau bisa jangan sampai tenaga guru berkurang karena kasihan anak-anak sekolah yang ada di CLC," pungkasnya. (akz)

Editor : Azwar Halim
#KRI Tawau #wni #kaltara #nunukan