Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Temui Nelayan, KRI Nunukan Minta WNI Bekerja Sebagai Nelayan Meningkatkan Kewaspadaan Saat Melaut

Asrullah RT • Minggu, 26 Januari 2025 | 20:00 WIB
PENDATAAN : Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo bersama rombongan saat bertemu dengan WNI yang bekerja sebagai nelayan di Kampung Madai Madai, Kunak, Sabah.
PENDATAAN : Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo bersama rombongan saat bertemu dengan WNI yang bekerja sebagai nelayan di Kampung Madai Madai, Kunak, Sabah.

NUNUKAN - Konsulat Republik Indonesia Tawau dan menyambangi Kampung Madai Madai. Wilayah ini merupakan kampung nelayan di Kunak, Sabah, Malaysia yang terletak persis di sisi muara sungai yang menghadap ke laut lepas tepatnya Laut Sulawesi.

Dan WNI yang bekerja sebagai nelayan serta pekerja kapal pada sejumlah perusahaan perikanan di Sabah. Tidak sedikit di antara WNI ini merupakan nelayan berpengalaman yang telah tinggal selama puluhan tahun di Sabah.

“Di Kunak diperkirakan terdapat sekitar 300 orang WNI yang tersebar di berbagai kampung. Kalau saat bulan purnama, biasanya banyak nelayan yang tidak melaut. Sehingga, pada saat itu kita bisa lebih banyak lagi menjumpai keberadaan mereka,” demikian penuturan seorang WNI yang sudah lama tinggal di Kunak.

Konsul RI Tawau, Aris Heru Utomo mengungkapkan tujuan kunjungan untuk melakukan pendataan dan verfikasi jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kunak. Khususnya WNI yang bekerja di sektor perikanan.

Dari pendataan awal diketahui bahwa para WNI yang tinggal di Kunak sebagian besar berasal Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasan mereka menjadi nelayan di Sabah dibandingkan di daerah asalnya di NTT, tidak terlepas dari tuntutan ekonomi.

Didaerah asalnya, para WNI ini tidak mungkin menjadi nelayan yang dapat memperoleh pendapatan yang memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Sebab, kondisi perairan yang ganas, ketrampilan dan perlengkapan melaut yang kurang memadai serta pendapatan yang kecil.

"Di Sabah, dengan ketrampilan yang terbatas, mereka dapat menjadi nelayan dengan upah minimum yang cukup memadai. Bahkan, apabila mereka telah berpengalaman bisa menjadi kapten kapal. Dan pendapatannya bisa meningkat belasan hingga puluhan kali dari upah minimum. Saat akan melaut, nelayan pun tidak perlu memikirkan soal kapal dan perlengkapannya, karena sudah disiapkan oleh perusahaan perikanan," kisahnya.

Dan pada kesempatan itu, pihaknya terus berpesan agar para WNI masuk dan bekerja di Sabah menggunakan paspor jalur resmi. Serta, dapat mematuhi prosedur keimigrasian dan lengkapi dokumen kekonsuleran.

“Untuk pembuatan atau perpanjangan paspor, Konsulat RI tidak memungut biaya apapun. Kecuali, biaya resmi yang sudah ditetapkan Pemerintah Pusat dan tercantum jelas dalam Surat Keputusan Kepala Perwakilan RI Tawau. Sesuai perjanjian kerja, biaya pembuatan atau perpanjangan paspor biasanya ditanggung pihak perusahaan," tegasnya.

Sehingga, PMI diminta tidak mudah percaya pada oknum yang mengaku dapat membantu untuk mengurusi dokumen keimigrasian. Kemudian oknum tersebut meminta imbalan.

“Jadi kalau ada seseorang yang menjanjikan dapat membuat atau memperpanjang paspor baru dengan biaya tambahan tertentu, maka dapat dipastikan itu adalah perbuatan calo,” singkatnya.

Selanjutnya, pihaknya juga menekankan agar para nelayan WNI meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatiannya saat melaut. Sebaiknya, para nelayan tidak melaut sendirian atau bersama kerabat. Dan tetap aktif memantau pesan-pesan yang muncul di media komunikasi group.

“Terkait keamanan di laut, khusus di wilayah perairan yang berbatasan langsung dengan Filipina Selatan, para nelayan WNI agar meningkatkan kewaspadan akan potensi gangguan dari para perompak kepada para nelayan,” pungkasnya. (akz)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #wni #kri #kaltara #nunukan #nelayan