NUNUKAN - Kemarau panjang yang terjadi sejak akhir 2023 hingga saat ini, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan menetapkan Nunukan berstatus tanggap darurat hidrometeorologi.
Kasubdit Rehabilitasi dan Rekontruksi, BPBD Nunukan, Mulyadi menyampaikan untuk menangani status tanggap darurat hidrometeorologi BPBD Nunukan mendapatkan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dana siap pakai ini diperuntukkan untuk bantuan air bersih ke masyarakat.
"Jadi BPBD mendapatkan bantuan terkait status tersebut sebesar Rp 250 juta. Bantuan tersebut di manfaatkan untuk penanganan kekeringan yang ada di Nunukan," ucap Mulyadi kepada Radar Tarakan, Selasa (27/2).
Dijelaskan, bantuan yang diberikan kepada masyarakat berupa pendistribusian air bersih. Langkah ini juga membantu Perumda Air Bersih Tirta Taka, Nunukan. Selain itu juga untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.
"Kita mendistribusikan air bersih ke masyarakat membantu Perumda Tirta Taka. Kemudian bantuan diperuntukkan untuk penanganan karhutla dampak dari kekeringan," jelasnya.
Berdasarkan pantauan di 21 kecamatan di Nunukan dapat dikatakan kemarau menimpa seluruh wilayah di Nunukan. Bahkan, dampak kekeringan yang terjadi membuat kondisi debit air sungai di wilayah Sembakung terlihat surut.
"Kalau di Nunukan yang terdampak kekeringan hampir di seluruh kecamatan. Bayangkan dampak Elnino, sungai Sembakung bisa sesurut ini. Dan ini belum pernah terjadi sungai Sembakung airnya surut drastis," kisahnya sembari memperhatikan foto kondisi sungai Sembakung.
Untuk status siaga tanggap darurat hidrometeorologi yang ditetapkan akan berlangsung selama tiga bulan. Dimulai sejak Februari hingga April 2024 mendatang. "Berlaku selama tiga bulan ke depan. Mulai Februari ini," pungkasnya.
KEMARAU MELANDA SELURUH WILAYAH NUNUKAN
BPBD Nunukan mencatatkan seluruh kecamatan di Nunukan merasakan kekeringan. Alhasil, masyarakat kini kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kasubdit Rehabilitasi dan Rekontruksi, BPBD Nunukan, Mulyadi menyampaikan musim kemarau tidak hanya terjadi di Pulau Nunukan dan Sebatik. Tetapi terjadi di sejumlah kecamatan di Nunukan.
Baca Juga: Belasan Sepeda Motor Terjaring Razia Knalpot Brong
"Kalau di Kabupaten Nunukan yang terdampak kekeringan hampir di seluruh kecamatan," ucap Mulyadi Selasa (27/2).
Kondisi ini dibenarkan Camat Krayan Selatan Oktavianus Ramli. Ia mengungkapkan kemarau terjadi di wilayahnya sejak sepekan terakhir. Kondisi ini membuat masyarakat harus mengangkut air dari sungai besar yang ada di Krayan Selatan.
"Kekeringan juga kami rasakan di kecamatan selatan. Sudah sepekan dirasakan kemarau. Masyarakat harus mengambil air di sungai besar. Dan untuk urusan mandi dan mencuci dilakukan di sungai besar," kisahnya.
Senada yang disampaikan Camat Sembakung Atulai Arif Agus Darmawan menceritakan karena kemarau yang terjadi membuat debit air sungai Sembakung surut drastis. Bahkan, situasi ini baru terjadi dengan surutnya air sungai Sembakung.
"Kondisinya memang kemarau. Air sungai Sembakung sampai surut. Ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Kalau kemarau itu mulai Oktober 2023 lalu. Namun, pada awal tahun hujan sering terjadi. Dan belakangan ini kembali kemarau," ungkapnya.
Dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat harus membeli. Sebab, sumber air untuk masyarakat kini mengalami kekeringan. Sementara, untuk pertanian masyarakat tidak terdampak. Sebab, sebelumnya banjir kerap menimpa wilayah Sembakung.
Baca Juga: Terindikasi Nonprosedural, Dua CPMI Ditunda Berangkat
"Kalau untuk pertanian tidak terdampak juga. Karena masyarakat tidak lagi bertani, sebab, sering terdampak banjir yang terjadi," pungkasnya.
Kondisi kemarau bakal dirasakan masyarakat Pulau Nunukan dan Sebatik hingga Maret 2024 mendatang. Situasi ini berdasarkan pantauan Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan.
Kepala BMKG Nunukan William Sinaga menyampaikan untuk wilayah Nunukan terbagi di beberapa wilayah. Khusus Pulau Nunukan dan Sebatik saat ini masih berada di musim kekeringan. Sebab, curah hujan rendah sudah terjadi sejak Januari hingga Februari.
"Untuk Pulau Nunukan dan Sebatik situasi normal pada Januari dan Februari memasuki musim kekeringan. Situasinya, setiap tahun bisa maju dan mundur," ucap William Sinaga kepada Radar Tarakan, Senin (26/2).
Dijelaskan, kemarau yang terjadi di Pulau Nunukan dan Sebatik berdasarkan data 30 tahun terakhir, setiap awal tahun pada Januari hingga Maret mengalami kurang curah hujan atau kekeringan.
"Setiap dasarian dihitung 10 hari setiap bulan. Artinya, selama sebulan ada 3 dasarian. Di Februari hingga dasarian 2 pada 20 Februari 2024 curah hujan di bawah 50 mili meter. Artinya, Sebatik dan Nunukan memasuki musim kekeringan. Tetapi, wilayah lainnya terjadi hujan sepanjang tahun," jelasnya.
Baca Juga: Kebakaran Gudang Kayu di Sei Bilal, Nunukan Barat Nyaris Tak Diketahui
Dirincikan, untuk kategori curah hujan rendah mulai dari 0 hingga 20 mm, 20 hingga 50 mm dan 50 hingga 100 mm. Kemudian, kategori menengah 100 hingga 150 mm, 150 hingga 200 mm dan 200 hingga 300 mm. Dan kategori tinggi 300 hingga 400 mm dan 400 hingga 500 mm. Untuk diketahui, satu milimeter hujan berarti air hujan yang turun di wilayah seluas satu meter persegi.
"Curah hujan tinggi terjadi ketika hujan setiap dasarian di atas 50 mm per 10 hari. Untuk kekeringan selama 20 hari curah hujan kurang dari 50 mm. Patokan selama 3 dasarian 150 mm," jelasnya.
Dan berdasarkan hasil pengamatan, sejak Januari 2024 berdasarkan takaran hujan jumlah curah hujan 129,3 mm. Kondisi ini masuk kategori kemarau. Selanjutnya, Februari hingga 20 Februari curah hujan masih 101 mm. Artinya kurang 49 mm agar masuk musim hujan. Di Nunukan mengalami kekeringan hingga dasarian 2 Februari.
"Berdasarkan perkiraan, pada Maret di bawah normal. Curah hujan masih kurang. Diperkirakan April ada kenaikan curah hujan," pungkasnya. (akz/ana)
Editor : Azwar Halim