Karya Ramli, memang patut menjadi pemenang, sebab logonya menjadi representasi dari khazanah, budaya, sejarah dan kearifan lokal Kabupaten Nunukan yang berada di perbatasan RI-Malaysia.
Itu diungkapkan Kabag Protokol dan Koordinasi Pimpinan (Prokopim), Joned ketika dikonfirmasi soal pemenang lomba desain logo Kabupaten Nunukan yang ke-23 tersebut. Dirinya memastikan, Logo tersebut pun, akan digunakan dan diresmikan sebagai logo di HUT Nunukan 23. ”Ya, jadi logo hasil karya Ramli ini, dipilih langung oleh Bupati, Wakil Bupati dan Sekda yang merupakan dewan juri,” ungkap Joned kepada sejumlah awak media, Selasa (20/9).
Joned menyampaikan, dalam HUT 23 Nunukan, sebagai momentum kebangkitan dan bergerak membangun sinergitas dengan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk pemulihan ekonomi dengan menjunjung tinggi budaya, dan kearifan lokal demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Kabupaten Nunukan.
Menurut Joned, logo 23 karya Ramli dibuat bersambung, dan saling berhubungan, saling melengkapi komposisi. Itu melambangkan sinergitas semua potensi, untuk bangkit memulihkan ekonomi. “Misalnya ada jejak sejarah yang mengingatkan kembali bahwa Nunukan menjadi salah satu saksi terjadinya konfrontasi dengan Malaysia dalam mempertahankan setiap jengkal tanah milik ibu pertiwi, yang dilambangkan dengan Tugu Dwi Komando Rakyat atau Dwikora,” kata Joned.
Selain itu, juga tergambar batik motif Lulantatibu, sebagai ornamen angka 23, yang melambangkan persatuan suku-suku yang mendiami Kabupaten Nunukan. Ada Lundayeh, Tagalan, Tidung dan Dayak Bulungan. Lulantatibu, merupakan implementasi dari Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan semboyan negara Indonesia.
Dari sisi kekayaan alam, logo buatan Ramli menampilkan penampakan gajah Sebuku, atau elephas maximus borneensis.
Keberadaan gajah kerdil tersebut, hampir punah perlu dilestarikan dan dirawat di habitatnya. Agar menjadi nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dari sisi ekonomi, Ramli menambahkan rumput laut yang saat ini merupakan komoditas andalan penopang ekonomi masyarakat. Sedangkan dari sisi otentik dan kekhasan Nunukan, Ramli mencantumkan butir padi adan asal Krayan sebanyak 23 butir. “Itu melambangkan usia Nunukan saat ini, dan diharapkan menjadi lambang kebangkitan dalam segala aspek, baik sosial maupun ekonomi,” tambah Joned.
Dalam logo, Ramli juga menambahkan roda, sebagai perlambang perputaran ekonomi Nunukan yang terus menuju arah lebih baik.
Sementara dari aspek warna, ada 4 warna yang digunakan Ramli dalam logo 23 ciptaannya, dan masing-masing memiliki filosofi dan makna tersendiri.
Warna biru, melambangkan semangat, optimis, ceria dan kreatif. Warna oranye, mempresentasekan percaya diri, profesional dan dilandasi keikhlasan hati.
Warna merah, menunjukkan ketegasan energi dan perjuangan pemulihan ekonomi. Sedangkan warna Hitam, mewakili tekad yang kuat untuk bangkit mewujudkan masa depan yang lebih baik dengan dilandasi integritas dan persatuan. (raw/lim)
Editor : Azwar Halim