Bahkan, menjadi salah satu penopang ekonomi terbesar di daerah perbatasan negara.
Tidak disangka, laut di Nunukan membuat tanaman rumput laut subur budidayanya.
Nah, orang pertama kali yang mengenalkan rumput laut di Nunukan, ternyata warga Sebatik.
Dia adalah Tamuddin (60), warga Desa Binalawan, Sebatik Barat.
Dialah orang pertama kali yang membawa bibit rumput laut ke Nunukan.
Hal itu terungkap saat media ini bertemu anak Tamuddin Bernama Ismail di Sebatik.
Ismail mengaku, ayahnya lah yang pertama kali membudidaya rumput laut di Sebatik sejak tahun 2008 silam.
“Bapak itu sudah budi daya rumput laut tahun 2008, dia bawa bibit dari Sulawesi. Di Sulawesi sanalah beliau banyak belajar merumput laut, ilmunya dibawanya dan diaplikasikan di sini,” ungkap Ismail kepada wartawan Radar Tarakan.
Ismail mengaku, di tahun 2008-an saat itu, masyarakat belum ada yang tahu budidaya rumput laut.
Banyak yang tidak tahu kegunaan dan diperuntuk apa.
Apalagi, saat itu harga rumput laut kering hanya Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per kilogram.
Ismail juga mengaku, orang tuanya sempat dikira orang gila dan kurang kerjaan karena sering memungut botol plastik bekas.
“Ya, pernah dikira begitu, dikira pemulung, botol itu banyak ditumpuk di belakang rumah saya. Sampai orang tau ternyata itu untuk budidaya rumput laut, malah dikatakan kerjaan mati, tidak ada untungnya,” beber Ismail.
Cerita Ismail tersebut, juga dibenarkan Kepala Desa (Kades) Binalawan, Sebatik Barat Darwis.
Orang pertama kali yang bawa nama rumput laut di Nunukan adalah warganya yang Bernama Tamuddin, perantau asal Bone, Sulawesi Selatan.
Darwis juga tahu, soal Tamuddin pernah dikira orang gila karena suka mengumpulkan botol bekas.
Namun, Darwis tahu, bahwa Tamuddin mengumpulkan botol untuk keperluan budidaya rumput laut.
“Beliau itu (Tamuddin) tidak peduli dengan anggapan masyarakat. Dia tetap tekun merajut tali dan memasang sejumlah botol bekas untuk pelampung, agar tanamannya tidak tenggelam saat itu. Waktu itu, belum ada pondasi. Bentang rumput laut ditanam di balok kayu, yang ditanam di pinggir laut saja, tapi ada tali yang diikatkan di tiang itu supaya tidak hanyut,” ungkap Darwis.
Masyarakat perbatasan baru melirik komoditi ini, sekitar tahun 2009 sampai 2010.
Saat itu harga rumput laut per kilogramnya, sudah mencapai Rp 9.000 – Rp 10.000.
“Dari situlah masyarakat mulai banyak yang ikut-ikut menanam. Padahal tadinya mereka bilang beliau itu gila, sekarang mereka ikut gila, kan ikut terjun di sektor ini juga. Jadi bapak Tamuddin Itu, harusnya sudah dikasih penghargaan dia,” harap Darwis.
Akhirnya, sejak tahun 2010, mulai banyak masyarakat terjun untuk menjadi pembudidaya rumput laut.
Hasil yang cukup lumayan, membuat mereka bersemangat memenuhi wilayah perairan yang dirasa strategis untuk menghasilkan panen yang baik. (*) Editor : Sopian Hadi