RIKO ADITYA / Nunukan
CERITA itu disampaikan oleh Bagian Humas Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Nunukan, Susanto ketika ditemui di kelenteng san sen kong Nunukan, Senin (31/1) siang. Susanto menceritakan, awal mula klenteng sebelum dibangun megah di Jalan Pembangunan, Nunukan Barat, dipelopori oleh Paguyuban Warga Tionghoa Nunukan (PWTN) khususnya 7 tokoh-tokoh tionghoa di Nunukan yakni, Masran, Sunardi, Sunarto, Suryamin Candra, Edi Lianto, Diki Hendrawan, Hendrik kabung.
“Dana pembangunan klenteng ini, dikumpulkan oleh 7 orang pelopor tersebut,” cerita Susanto kepada Radar Tarakan, Senin (31/1).
Pembangunan pun awal mula dimusyawarahkan pada tahun 2007 silam. Begitu akan dibangun, warga tionghoa akhirnya berkumpul di warung tionghoa bernama kokok pada masanya, di Jalan Yamaker, Nunukan Barat. Kemudian diambil kesimpulan sekian donatur yang akan menyumbangkan dananya untuk pembangunan klenteng tersebut. Tokoh-tokoh masyarakat Nunukan seperti H. Batto, H. Sabri masuk dalam donatur pembangunan kelenteng.
“Akhirnya para pelopor 7 orang tadi yang terus bergerak yang berperan besar dalam pembangunan kelenteng ini,” tambah Susanto.
Tak sedikit tempat di survei dan dipilih yang akan dijadikan lokasi pembangunan kelenteng. Wacana pertama tanah yang akan dibeli di daerah Persemaian, Nunukan Tengah. Ternyata luas tanah tidak cukup untuk membanguan kelenteng.
Pada akhirnya, tanah ditawarkan sendiri oleh Jemi, salah seorang termasuk pelopor pembangunan kelenteng di luar 7 tokoh utama sebelumnya. Tanah yang terletak di Jalan Pembangunan, Nunukan Barat, dengan luas 30x60 meter, cocok dengan rencana luas lahan pembangunan kelenteng San Sen Kong.
Setelah mendapatkan tanah, mulailah dibangun klenteng tersebut. Struktur Organisasi pembangunan kelenteng bahkan, sampai bentuk langsung para pelopor waktu itu. Seorang tukang khusus pembangunan kelenteng pun didatangkan dari Tuban, Jawa Timur. Tukang tersebut bernama Rahmat, seorang tukang profesional yang memang punya seni konsep sebuah rumah ibadah klenteng.
“Salah satu tukang Indonesia yang bisa menjadi tukang di klenteng terbesar di Tuban, Jawa Timur, adalah tukang pilihan. Dia (Rahmat) pernah menjadi tukang di kelenteng itu, beliau itulah yang dipanggil mengerjakan kelenteng san sen kong Nunukan ini,” kata Susanto.
Mengerjakan seluruh ornamen baik di dalam dan di luar bangunan kelenteng, Rahmat tidak menggunakan cetakan apapun melainkan langsung dari tangannya sendiri termasuk membuat patung naga melingkar di dinding depan rumah ibadah klenteng. Puluhan pembantu tukang juga dibawa Rahmat dari Tuban.
Pembangunan pun akhirnya rampung dikerjakan selama setahun. Dalam setahun, pembangunan diklaim termasuk lama selesai, karena ada sejumlah material khusus yang digunakan dan bahannya dipesan di luar Nunukan bahkan ada material yang di pesan langsung dari negeri Tiongkok.
“Kita gunakan kayu jadi untuk tiang-tiang pembangunan yang dipesan dari Jepara (Jawa Tengah), kemudian genteng di datangkan dari negeri Tiongkok langsung, karena di Indonesia tidak ada, ukiran genteng ini memang khusus, material ini ditunggu datang 3 sampai 4 bulan, banyak faktor yang membuat kelenteng ini lama di bangun,” ujar Susanto.
Pembangunan akhirnya rampung pada tahun 2008 lalu. Saat itu, diresmikan langsung oleh Bupati pada masanya di tahun 2008 silam yakni, H. Abdul Hafid. Pertunjukan barongsai ditontonkan saat peresmian bangunan klenteng tersebut. Rumah ibadah Kelenteng San Sen Kong akhirnya digunakan oleh agama tiga ajaran dari agama Konghucu, Buddha dan Taoisme sesuai dengan namanya Tri Dharma atau berarti tiga ajaran. (*/eza) Editor : Azwar Halim