Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Makan Kue Bersama Usai Tarawih di Masjid

Azwar Halim • Jumat, 24 Mei 2019 | 10:34 WIB
makan-kue-bersama-usai-tarawih-di-masjid
makan-kue-bersama-usai-tarawih-di-masjid

NUNUKAN - Warga perbatasan di Sebatik punya tradisi lain di tengah bulan Ramadan atau yang lebih dikenal dengan sebutan malam qunut. Di malam qunut, warga menyiapkan hidangan kue untuk dibawa ke masjid dan dimakan bersama setelah salat Tarawih. Tradisi ini dapat dijumpai di Desa Aji Kuning dan Desa Maspul Kecamatan Sebatik Tengah.


Salah seorang warga,  Asdar mengatakan, malam qunut tepat pada malam ke 16 bulan Ramadan. Salah satu nuansa yang unik terjadi di lingkungan Kampung Rambutan dan Kampung Butun, wilayah Kecamatan Sebatik Tengah.


“Jika dikatakan malam pertengahan Ramadan, pasti identik dengan kue yang disajikan setelah selesai salat trawih,” kata Asdar.


Seperti yang dilakukan di Masjid Nurul Iman Maspul dan masjid Al Hikmah Aji Kuning. Ternyata fenomena tersebut, bukan merupakan kali pertama dilakukan di Sebatik Tengah, namun ini telah menjadi kegiatan rutin. Dilakukan sejak dulu di kampung asal mereka, yakni Sulawesi Selatan dan budaya itupun masih terus dipelihara oleh masyarakat di daerah ini. Karena mayoritas penduduk bersuku bugis.


Jika biasanya yang disajikan hanya kue biasa saja, namun berbeda di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Masyarakat menyajikan kue yang merupakan makanan khas Kabupaten Barru yakni, kue apang bahasa daerahnya. Disajikan ke dalam piring dan dibawa ke masjid.


Kenapa harus membawa kue apang, sedikit ungkapan yang tentunya menjadi ajang yang menarik untuk dipahami. Karena ternyata antara filosofi apang dengan budaya mempertahankan kemakmuran masjid, juga terkandung di dalamnya.


Salah satu tokoh masyarakat bugis Barru yang ada di Desa Aji Kuning, H Jamaluddin telah merantau dan melestarikan budaya tersebut mengatakan, kue apang disajikan pada malam qunut, karena ada filosofi tersendiri dalam pembuatan kue apang.


“Coba dipraktikkan awalnya dimasak hanya ada sedikit saja, namun kemudian setelah terus dimasak, maka akan terus mengembang, dan akhirnya menjadi besar dan berkembang,” kata Jamaluddin.


Dari proses tersebut dapat diambil Makna yang diharapkan dengan sajian kue apang pada malam ke 16 Ramadan, tidak menyurutkan niat masyarakat muslim untuk senantiasa meramaikan masjid, dengan cara datang untuk melakukan salat Tarawih.


Setelah salat Tarawih dan  berdoa bersama, kue apang dibagi kepada para jamaah dan kue ini juga akan dibagikan kepada tetangga terutama pada warga yang kurang mampu. Sehingga bisa dikatakan, kue ini juga sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap rezeki yang sudah didapatkan.


“Maknanya juga hampir sama, menunjukkan adanya tali silaturahmi karena nantinya juga dibagikan kepada tetangga atau santri bila di lingkungan pesantren,” ujarnya.


Tradisi makan kue apang di malam qunut dimaksudkan agar jamaah bisa menikmati kue ini juga bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya. Karena biasanya semakin akhir Ramadan, maka semakin kurang masyarakat yang berjamaah, maka bagaimana mempertahankan hal ini, dengan mengambil filosofi apang, semakin dimasak maka semakin mengembang, maka diharapkan semakin akhir Ramadan jumlah jamaah tidak berkurang, dan bahkan makin terus bertambah (nal/ana)

Editor : Azwar Halim