Bertugas di daerah perbatasan merupakan hal baru bagi AKBP Teguh Twirantoto, nakhoda Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Nunukan. Sebelum di perbatasan sudah banyak pengalaman tugas yang ia lalui. Bagaimana kisahnya? Berikut liputannya.
RIKO ADITYA
PRIA kelahiran Semarang 25 Juni 1977 silam ini menggantikan tugas dari AKBP Jepri Yuniardi. Keduanya sudah melangsungkan malam pisah sambut yang digelar di Gedung Akbar, Jalan Rimba, Kelurahan Nunukan Tengah, Sabtu (3/11) malam yang menandakan pergantian pimpinan Polres Nunukan.
Sabtu (9/11) di Aula Sebatik, Mapolres Nunukan, dirinya mengadakan silaturahmi bersama insan pers. Seraya memperkenalkan diri, ia sekaligus bercerita deretan tempat di mana dirinya pernah bertugas sebagai anggota Korps Brigade Mobil (Brimob) sebelum ia menjabat sebagai Kapolres Nunukan.
Ya, Brimob. Teguh awalnya bertugas sebagai anggota brimob. Lulusan Akademi Polisi (Akpol) 1999 ini, pernah bertugas dalam Operasi Tinombala, Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Selama bertugas di sana, dirinya menjalani operasi kemanusiaan di daerah konflik dan bencana.
“Saat itu operasinya gabungan TNI-Polri dalam satu komando dan satu tempat. Seluruhnya pasukan elit yang melakukan pengejaran sekelompok teroris di hutan gunung Poso,” cerita Teguh mengawali perkenalannya.
Ia juga pernah menjadi koordinator eksekusi pidana mati. Saat itu ia berutgas di Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng). Atas peraturan kapolri (perkap) dan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) mengenai pelaksanaan pidana mati, regunya bertugas lakukan eksekusi pidana tersebut.
Eksekusi pun dilakukan oleh regu penembak dari Brimob yang dibentuk kapolda di wilayah kedudukan pengadilan yang menjatuhkan pidana mati. Regu tembak tersebut terdiri dari seorang bintara. Ada 12 orang tamtama di bawah pimpinan seorang perwira.
“Ya, saat itu saya ditugaskan sebagai koordinatornya. Ada regu tembak khusus yang melakukannya,” urai Teguh.
Ia juga menceritakan pernah mengikuti sejumlah jenjang asesmen setinggi jabatan kepala polsek dan kepala satuan dan lulus dengan layak. Namun, ia tidak berminat menjadi polisi karena tidak hobi. Keinginanya hanya menjadi komandan saja, pada akhirya ia pun menjadi Kapolres Nunukan.
Bertekad dan berusaha maksimal meneruskan apa yang sudah dijalankan Kapolres Nunukan sebelumnya, ia juga optimistis memberikan yang terbaik bahkan lebih. Selain itu, ia juga komitmen dalam pelayanan, sinergitas dan penegakan hukum seimbang dan transparan. Bahkan, ia berharap kinerja mereka diawasi, karena ia mengaku pihaknya belum sempurna.
“Jadi awasi juga kinerja kami, kami perlu saran dan kritik, karena saya akui kami belum sempurna. Untuk melanjutkan tugas Kapolres sebelumnya saya optimis berantas narkoba karena ini atensi negara dan pimpinan. Narkoba adalah musuh dan pengkhianat, termasuk permasalahan TKI juga penyelundupan,” tegas Teguh.
“Yang jelas kami akan berusaha semaksimal mungkin mendukung pemerintah memberantas segala bentuk tindak kriminalitas dan semaksimal mungkin berupaya meminimalisir bahkan kalau bisa meniadakannya,” tegasnya lagi. (***/lim)
Pernah Bertugas sebagai Koordinator Eksekutor Pidana Mati
Editor : Azwar Halim