Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tak Tertolong karena Tidak Ada Biaya Operasi

Azwar Halim • Minggu, 15 Juli 2018 | 15:25 WIB
tak-tertolong-karena-tidak-ada-biaya-operasi
tak-tertolong-karena-tidak-ada-biaya-operasi

M. Raffa, balita tanpa lubang anus yang lahir pada Kamis (5/7) lalu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan akhirnya meninggal dunia Rabu (11/7) lalu. Ia diduga meninggal akibat komplikasi penyakitnya.


 


RIKO ADITYA


 


LAHIR dengan keadaan tanpa lubang anus bukanlah keinginan orang tua almarhum M. Raffa. Namun, Manai dan Sanni hanya bisa memetik hikmah dari kejadian yang sudah dialaminya. “Hanya bisa ikhlas,” katanya singkat.


Masih terbawa rasa duka, Manai dan Sanni tak berkomentar banyak. Hanya keduanya merasa berkewajiban membelikan anak ke-4 nya tersebut seekor kambing. Selain itu, ia juga sudah tak memikirkan tunggakan administrasi RSUD Nunukan.


Sekian orang yang ikhlas membantu keluarganya didoakannya banyak rezeki. Atas bantuan para penderma, ia sedikit merasa lega melalui cobaan Tuhan. Ia hanya berpesan jangan pernah putus asa jika mengalami cobaan. Meski berat lalui dengan bersabar dan tabah serta penuh doa.


Menyusuri riwayat almarhum Raffa, pewarta harian ini pun menemui dr. Fikhi Anggara M, Sp.B yang menangani almarhum Raffa. Ia menjelaskan, pasien daru dapat ditangani setelah usia 4 hari.


Sebelumnya, pihaknya telah menjelaskan tentang penyakit komplikasi yang dialami serta penanganannya. Orang tua almarhum Raffa, lebih memilih pulang. “Sangat disayangkan pasien datang sudah dengan keadaan perut cembung dengan infeksi berat,” kata Fikhi.


Lantaran keadaan itu, Fikhi menjelaskan tentu sudah dalam keadaan darurat untuk dilakukan tindakan membuat lubang pembuangan sementara secepatnya yang seharusnya sudah harus dilakukan pada hari pertama bayi datang.


Dikarenakan komplikasi infeksi berat dan perut kembung yang disebabkan oleh terakumulasinya kotoran bayi selama 4 hari tanpa ada lubang pembuangan, maka telah terjadi translokasi bakteri dan infeksi intercolitis berat yang berujung ke kondisi sepsis. Di mana pada bayi dan anak-anak ini merupakan keadaan sangat berat bagi mereka.


Fikhi akhirnya melakukan tindakan paling cepat di mana membuat lubang di perut sesuai SOP bedah. “Selanjutnya bayi kami rawat di ruang ICU untuk observasi, dikarenakan kondisi infeksi berat dehidrasi dan kondisi usus bayi tersebut tidak baik, saat kami melakukan operasi,” tambah Fikhi.


Namun, setelah perawatan di ICU, kondisi bayi semakin memburuk dan sempat terjadi gagal napas yang kemudian ditangani oleh tim ICU serta dokter anak. Sayang kondisi bayi semakin tidak memungkinkan hingga akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa. “Tim dari RSUD Nunukan sudah berusaha keras, tapi kehendak hanya pada Allah SWT,” beber Fikhi. (***/lim)


 


Tak Tertolong karena Tidak Ada Biaya Operasi

Editor : Azwar Halim