Berawal dari Kepedulian pada Petani, Kingkaf Tembus Pasar Amerika hingga Jepang Berkat Pendampingan BRI

Rahul • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:13 WIB
Ika Yuanita, pendiri PT Kingkaf Makmur Sejahtera, menunjukkan produk kopi lokal yang kini berhasil menembus pasar internasional berkat inovasi dan pendampingan Rumah BUMN BRI.
Ika Yuanita, pendiri PT Kingkaf Makmur Sejahtera, menunjukkan produk kopi lokal yang kini berhasil menembus pasar internasional berkat inovasi dan pendampingan Rumah BUMN BRI.

BATANG – Secangkir kopi membawa Ika Yuanita pada perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berangkat dari kepeduliannya terhadap petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ia mendirikan PT Kingkaf Makmur Sejahtera pada 2017. Kini, produk kopi yang dirintis dari proses sederhana tersebut telah dipasarkan hingga ke berbagai negara.

Perjalanan Kingkaf bermula ketika Ika melihat hasil panen petani kopi lokal memiliki potensi besar, namun belum diolah secara optimal. Keterbatasan pengetahuan mengenai proses pascapanen membuat kopi yang dihasilkan belum memiliki nilai tambah yang maksimal.

Berangkat dari kondisi tersebut, Ika terdorong untuk mendampingi para petani sekaligus membawa kopi lokal menembus pasar yang lebih luas.

Namun, membangun pasar dari nol bukan perkara mudah. Tanpa jaringan distribusi yang kuat, Ika memasarkan produknya secara door to door kepada rekan, kenalan, hingga berbagai komunitas yang dinilai memiliki ketertarikan terhadap kopi lokal.

"Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan," kenang Ika.

Seiring waktu, respons pasar mulai tumbuh. Usaha yang awalnya hanya mengandalkan penjualan langsung berkembang menjadi kedai kopi dan restoran. Kingkaf bahkan sempat mengoperasikan enam outlet, sebuah pencapaian yang menandai transformasi bisnisnya dari usaha rumahan menjadi brand kuliner yang semakin dikenal.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi ujian besar. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat enam outlet tersebut terdampak, sehingga Ika harus mengambil keputusan penting demi mempertahankan usahanya.

Ia kemudian mengalihkan fokus bisnis dari operasional kedai dan restoran ke penjualan produk kopi kemasan melalui jaringan reseller. Langkah tersebut menjadi titik balik bagi Kingkaf.

Produk yang sebelumnya bergantung pada kunjungan pelanggan ke outlet kini mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, sistem reseller juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Seiring bertambahnya reseller dan meluasnya pemasaran, kebutuhan bisnis Kingkaf pun semakin kompleks. Ika tak lagi hanya memikirkan kualitas produk, tetapi juga pengelolaan transaksi, permodalan, pemasaran digital, hingga peningkatan kapasitas produksi.

Pada fase inilah BRI mulai menjadi bagian penting dalam perjalanan pertumbuhan Kingkaf. Untuk mendukung transaksi harian, Ika memanfaatkan layanan transfer dan QRIS BRI agar pembayaran pelanggan dapat diproses secara cepat dan praktis.

Selain itu, ia juga memanfaatkan fasilitas pembiayaan mikro BRI guna menjaga kelancaran operasional sekaligus mendukung pengembangan usaha.

"QRIS sangat membantu karena transaksi penjualan dapat diproses dengan cepat. Untuk kebutuhan permodalan, proses pembiayaan mikro BRI juga mudah dan cepat sehingga mendukung operasional usaha kami," ujarnya.

Dukungan yang diterima Ika tidak berhenti pada layanan transaksi dan pembiayaan. Atas rekomendasi sesama pelaku UMKM, pada 2020 ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI Semarang sebagai wadah belajar, berkonsultasi, sekaligus memperluas jaringan bisnis.

Ika kemudian aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI Semarang.

"Petugas BRI sangat terbuka dan ramah saat saya bergabung. Peran Rumah BUMN BRI Semarang sangat besar dalam mendukung perkembangan usaha saya. Dari berbagai pembelajaran yang diperoleh, pola pikir saya berubah. Menjual produk ternyata tidak cukup hanya menawarkan kualitas, tetapi juga harus memberikan solusi bagi kebutuhan konsumen," ungkapnya.

Perubahan pola pikir tersebut berdampak pada berbagai aspek pengelolaan usaha. Melalui pelatihan digitalisasi, manajemen keuangan, akses permodalan, legalitas produk, hingga keikutsertaan dalam bazar dan kegiatan pemasaran, Kingkaf tumbuh dengan fondasi bisnis yang semakin kuat.

Bagi Ika, Rumah BUMN BRI Semarang juga menghadirkan lingkungan yang mendorong pelaku UMKM berkembang bersama.

"Di Rumah BUMN BRI Semarang, kami dapat saling mendukung, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Jadi, bukan hanya belajar mengenai bisnis, tetapi juga bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya," katanya.

Bekal pengetahuan, akses layanan, serta jejaring tersebut membawa Kingkaf memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

Dari fasilitas produksi di Semarang yang melibatkan 12 tenaga kerja, Kingkaf kini memasarkan produknya melalui berbagai platform e-commerce nasional. Pasarnya pun telah merambah Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, hingga Hong Kong.

Pencapaian tersebut membuktikan bahwa produk berbasis potensi petani lokal mampu bersaing di pasar internasional apabila dikembangkan melalui inovasi, pengelolaan usaha yang baik, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, besarnya potensi produk lokal untuk berkembang hingga pasar global perlu didukung secara menyeluruh, mulai dari akses keuangan, penguatan legalitas, pemanfaatan teknologi digital, perluasan jejaring, hingga pembukaan akses pasar.

"Melalui program pemberdayaan Rumah BUMN, BRI menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Ekosistem ini diharapkan dapat membantu UMKM membangun fondasi usaha yang lebih kuat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Akhmad, pertumbuhan UMKM juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Seiring meningkatnya skala usaha dan kapasitas produksi, UMKM mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja sekaligus menggerakkan roda perekonomian di daerah.

Editor : Rahul
tarakan kaltara bri