SUMENEP – Asap tipis mengepul dari dapur produksi di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep. Di balik aroma khas gula merah, Rosidah (50) terus menjaga tradisi sekaligus mengembangkan usahanya yang telah dirintis sejak 2006.
Dengan memanfaatkan air nira pohon siwalan atau lontar, perempuan asal Sumenep ini memproduksi gula merah khas Madura. Namun, perjalanan membangun usaha tidak selalu mudah. Keterbatasan alat produksi dan modal sempat menjadi tantangan utama di awal merintis usaha.
“Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu kualitas gula merah buatan saya mulai dikenal dan permintaan terus meningkat,” ujar Rosidah.
Titik balik usahanya terjadi pada 2016 saat permintaan pasar semakin tinggi. Untuk menambah modal kerja, Rosidah mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan sebesar Rp25 juta.
“Saya sudah lama menjadi nasabah BRI, tetapi baru tahun 2016 memberanikan diri mengajukan KUR. Prosesnya cepat, tim BRI sangat responsif, bunganya rendah, dan tanpa agunan sehingga sangat membantu usaha kecil seperti saya,” katanya.
Modal tersebut digunakan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku dan meningkatkan kapasitas produksi. Setelah pinjaman pertama lunas, Rosidah kembali memperoleh KUR senilai Rp50 juta. Pada 2024, BRI kembali memberikan pembiayaan KUR sebesar Rp100 juta untuk mendukung pengembangan usahanya.
Menurut Rosidah, tambahan modal dari BRI memberikan dampak nyata terhadap perkembangan bisnisnya.
“Kucuran modal dari BRI sangat bermanfaat, terutama untuk penyediaan bahan baku dan peralatan produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar,” tuturnya.
Berkat tambahan modal tersebut, produksi gula merah meningkat signifikan, dari sekitar 200 kilogram per hari menjadi rata-rata 500 kilogram per hari.
Tak hanya meningkatkan produksi, usaha Rosidah juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Jika sebelumnya seluruh proses dikerjakan sendiri, kini ia mempekerjakan enam orang serta membeli bahan baku dari warga setempat.
Produk gula merah buatannya kini dipasarkan ke berbagai wilayah di Madura, mulai dari Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan. Sistem pemasarannya pun semakin praktis karena pelanggan cukup melakukan pemesanan melalui telepon, kemudian produk dikirim secara rutin ke toko-toko mitra.
Peningkatan skala usaha turut mendongkrak omzet penjualan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Bahkan, hasil usaha tersebut mampu membantu kedua anaknya membuka usaha di Surabaya.
Sementara itu, Branch Manager BRI BO Sumenep, Ali Topan, mengatakan BRI terus memperkuat perannya dalam mendukung pelaku UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hingga Mei 2026, BRI BO Sumenep telah menyalurkan KUR sebesar Rp691 miliar kepada sekitar 22 ribu debitur. Sebanyak Rp587 miliar atau 85 persen dari total penyaluran disalurkan ke sektor produksi, seperti perdagangan dan pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Sumenep.
“Dukungan BRI tidak hanya berupa pembiayaan, tetapi juga pemberdayaan, pendampingan usaha, dan edukasi keuangan agar pelaku UMKM dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen BRI dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah yang memiliki potensi unggulan,” ujar Ali Topan.
Editor : Rahul