Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Batik Office Wear Kian Digemari, Kain Indonesia by Shifara Angkat Wastra Nusantara ke Dunia Kerja Modern

Radar Tarakan • Jumat, 16 Januari 2026 | 09:45 WIB
Photo
Photo

Jakarta – Batik kini semakin populer sebagai busana kantor karena mampu memadukan unsur tradisional dan profesional dalam tampilan yang elegan. Beragam motif batik dapat disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan pekerjaan.

Selain memperkaya penampilan, penggunaan batik di lingkungan kerja juga menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya lokal. Dengan sentuhan desain modern, batik tampil sebagai simbol identitas dan kebanggaan tanpa kehilangan relevansinya di dunia kerja masa kini.

 

Hal inilah yang mendorong Kain Indonesia by Shifara untuk terus bersemangat memproduksi batik dalam bentuk office wear yang apik dan kekinian.

 

“Caranya adalah kami memproduksi baju-baju jadi atau ready to wear dengan konsep office wear. Tema besar kami adalah from office to hangout, dan target market utama kami adalah wanita,” ujar Sinta Paramitha, pemilik Kain Indonesia by Shifara.

 

Sinta yang tinggal di Pekalongan mengaku jatuh cinta pada batik karena lingkungan sekitarnya yang kaya akan produksi batik. Perjalanan bersama orang tuanya ke berbagai daerah juga memperluas wawasannya tentang wastra Nusantara. Dari pengalaman tersebut, tumbuh niat untuk mengembangkan kekayaan wastra Indonesia.

 

Dorongan tersebut semakin kuat ketika Sinta melihat penurunan ekspor batik sejak 2012 serta berkurangnya jumlah pengrajin kain Indonesia hingga lebih dari 100 ribu orang selama masa pandemi. Ancaman klaim batik oleh berbagai negara pun semakin membulatkan tekadnya untuk mengembangkan wastra dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Sebagai merek lokal, Kain Indonesia by Shifara berupaya menonjolkan keunikannya dengan mengeksplorasi wastra Nusantara dari Sabang sampai Merauke serta memilih material yang nyaman digunakan sehari-hari. Wastra yang digunakan berasal dari berbagai daerah, seperti Endek Bali, Jumputan Palembang, Jumputan Jogja, dan Batik Pekalongan.

 

Sinta merancang busana yang dapat dikenakan perempuan dengan berbagai ukuran, sehingga memudahkan pembuatan seragam. Selain itu, desain yang dihadirkan juga menyesuaikan tren terkini agar tetap relevan.

 

 

Terus Berkembang Berkat Rumah BUMN BRI

 

 

Kain Indonesia by Shifara semakin berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta sebagai wadah kolaborasi dan pemberdayaan UMKM. Setelah melalui proses seleksi, Sinta mendapatkan pendampingan langsung untuk mengembangkan bisnisnya melalui berbagai pelatihan, mulai dari digital marketing, strategi pemasaran, operasional, hingga keuangan.

 

“Kami bertemu dengan para coach yang setelah pendampingan masih bisa kami ajak berinteraksi dan bertanya. Ini sangat membantu, tidak hanya dalam mendapatkan ilmu, tetapi juga dalam menyelesaikan berbagai kebingungan saat menjalankan bisnis,” imbuhnya.

 

Setelah pendampingan selesai, Kain Indonesia by Shifara turut mengikuti berbagai event yang digelar BRI, mulai dari bazar hingga program BRI Inkubator yang memfasilitasi UMKM untuk mengembangkan usahanya.

 

“BRI memberikan banyak fasilitas, mulai dari ilmu yang bisa langsung diaplikasikan hingga kesempatan pameran yang membantu memperkenalkan produk dan meningkatkan brand awareness,” kata Sinta.

 

Hadirnya Kain Indonesia by Shifara tidak hanya membuat Sinta menjadi perempuan yang lebih produktif dan berdaya, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian perempuan lain dalam sirkular bisnisnya. Mulai dari penjahit hingga admin packaging, seluruh proses dikerjakan oleh perempuan dari berbagai usia dan latar belakang. Ia meyakini perempuan Indonesia memiliki peran besar dalam menjaga dan mengenalkan batik ke dunia.

 

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif bagi pelaku usaha untuk memperoleh pembinaan, memperluas jejaring, serta meningkatkan kapasitas bisnis agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

 

Program pembinaan UMKM ini menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hingga saat ini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai daerah.

 

“Banyak pelaku usaha yang sebelumnya hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pendampingan berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #bri