Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

QRIS: Penggerak Inklusi Keuangan Pedesaan

Radar Tarakan • Kamis, 20 Maret 2025 | 06:59 WIB
Oleh: Joshua Sibagariang
Oleh: Joshua Sibagariang

DI ERA ekonomi digital saat ini, akses terhadap layanan keuangan yang inklusif bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.

Namun, kesenjangan akses ke layanan keuangan masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat pedesaan. Bank Indonesia, melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), telah menghadirkan solusi inovatif yang memungkinkan siapa saja, termasuk pelaku usaha kecil di desa-desa, untuk terhubung dengan sistem keuangan digital.

QRIS bukan hanya sekadar alat pembayaran, melainkan jembatan yang menghubungkan masyarakat pedesaan dengan peluang ekonomi yang lebih luas.

Inklusi keuangan merupakan kunci pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merupakan upaya penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) (World Bank, 2023).

Tersedianya akses keuangan dapat mendorong UMKM untuk melakukan kegiatan ekonomi produktif, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan QRIS, masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada uang tunai atau berbagai aplikasi pembayaran yang membingungkan.

Cukup dengan satu QR Code, mereka bisa bertransaksi dengan mudah dan cepat. Bagi UMKM, QRIS menawarkan efisiensi yang luar biasa tanpa perlu biaya besar untuk perangkat EDC atau proses administrasi yang berbelit.

Dengan semakin luasnya adopsi QRIS, kesenjangan akses keuangan di pedesaan perlahan dapat dikurangi. Namun, tantangan besar masih ada, terutama terkait infrastruktur dan literasi keuangan digital.

Dalam publikasi CGAP (the Consultative Group to Assist the Poor) bertajuk China’s Alipay and WeChat Pay: Reaching Rural Users (2017), Indonesia dapat belajar dari negara lain seperti Tiongkok.

Alipay dan WeChat Pay telah sukses memperkenalkan pembayaran digital di wilayah pedesaan dengan pendekatan berbasis e-commerce, QR code sederhana, serta edukasi yang masif.

Masyarakat yang sebelumnya skeptis akhirnya mulai menerima pembayaran digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Namun, penerapan QRIS di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi domestik, termasuk regulasi dan infrastruktur digital yang terus berkembang.

Kenaikan jumlah pengguna dan merchant QRIS secara nasional dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa secara umum masyarakat sudah siap beralih ke transaksi digital.

Di Kalimantan Utara, misalnya, pada Januari 2025, jumlah transaksi QRIS di wilayah ini telah mencapai 5.298.424 transaksi, dengan 121.437 pengguna dan 95.369 merchant yang sudah mengadopsi QRIS, mayoritas di antaranya adalah UMKM.

Pencapaian ini membuktikan bahwa masyarakat mulai memahami manfaat transaksi digital.

Sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi keuangan, Bank Indonesia menerapkan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0% untuk transaksi hingga Rp 500.000 bagi merchant usaha mikro mulai 1 Desember 2024.

Kebijakan ini memberikan insentif besar bagi pelaku usaha kecil untuk mengadopsi QRIS tanpa dikenakan biaya tambahan, sehingga mempercepat pertumbuhan ekosistem pembayaran digital, termasuk di wilayah pedesaan.

KEBERHASILAN DI DESA RANCABUNGUR
Implementasi QRIS di Desa Rancabungur, Jawa Barat, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana teknologi pembayaran digital dapat memperkuat inklusi keuangan di wilayah pedesaan.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (2024), sebanyak 20 pelaku UMKM di desa ini mulai mengadopsi QRIS sebagai metode pembayaran digital.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan QRIS membantu meningkatkan efisiensi transaksi dan memudahkan pengelolaan keuangan bagi para pelaku usaha.

Peningkatan efisiensi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada uang tunai, tetapi juga mempercepat proses transaksi sehari-hari.

Dengan pencatatan keuangan yang lebih baik, pelaku UMKM di Desa Rancabungur menjadi lebih percaya diri dalam mengembangkan usahanya dan mengakses layanan keuangan formal.

Kisah sukses ini menunjukkan bahwa dengan edukasi dan dukungan yang tepat, QRIS dapat menjadi alat transformasi ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

TANTANGAN
Namun, keberhasilan QRIS tidak akan maksimal jika tantangan mendasar belum diselesaikan. Salah satu hambatan terbesar adalah kualitas infrastruktur jaringan internet yang masih belum merata.

Di beberapa desa di Kalimantan Utara, koneksi internet yang lemah atau tidak stabil sering menghambat kelancaran transaksi QRIS.

Jika masyarakat harus menghadapi kegagalan transaksi akibat sinyal yang buruk, kepercayaan mereka terhadap sistem ini bisa berkurang.

Oleh karena itu, investasi dalam pembangunan jaringan internet dan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) yang menjangkau seluruh wilayah harus menjadi prioritas.

Selain itu, literasi keuangan digital juga menjadi tantangan penting. Sebagian besar masyarakat di pedesaan membutuhkan edukasi lebih lanjut tentang sistem pembayaran digital.

Kampanye edukasi yang masif dan berkelanjutan harus dilakukan agar mereka tidak hanya tahu cara menggunakan QRIS, tetapi juga memahami manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah, perbankan, dan pelaku industri teknologi finansial harus bersinergi dalam mengadakan pelatihan bagi UMKM dan masyarakat umum, terutama di daerah dengan tingkat literasi digital yang masih rendah.

Dengan dorongan yang tepat, jumlah adopsi QRIS oleh UMKM dapat terus meningkat dan membawa lebih banyak UMKM ke dalam ekosistem keuangan digital yang lebih aman dan efisien.

INKLUSI KEUANGAN BERKELANJUTAN
QRIS telah membuka pintu bagi masyarakat pedesaan untuk menikmati layanan keuangan modern, tetapi perjalanan menuju inklusi keuangan yang sesungguhnya masih panjang.

Infrastruktur harus diperbaiki, literasi keuangan digital harus ditingkatkan, dan dukungan kebijakan harus diperkuat. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, komunitas bisnis, serta masyarakat luas sangat dibutuhkan agar ekosistem QRIS berkembang lebih cepat dan merata.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi pedesaan, langkah nyata harus dilakukan agar QRIS menjadi bagian dari solusi berkelanjutan. Kini saatnya semua pihak bersinergi dalam mendorong digitalisasi keuangan di pedesaan.

Baca Juga: Berikan Kecepatan dan Kemudahan dalam Genggaman, BRI Luncurkan QRIS TAP

Keberhasilan QRIS bukan hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada bagaimana kita memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkannya secara optimal. (*/penulis merupakan pelaksana pada Unit Implementasi Pengelola Uang Rupiah KPw BI Kaltara)

Editor : Azwar Halim
#Quick Response Code Indonesian Standard #inklusi keuangan #qris