Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

#KaburAjaDulu Disebut Simbol Ketidakpuasan Generasi Muda

Radar Tarakan • Kamis, 27 Februari 2025 | 11:00 WIB

 

ISTIMEWA ILUSTRASI: Fenomena #KaburAjaDulu disebut pakar Ilmu Komunikasi PCU sebagai simbol ketidakpuasan generasi muda.
ISTIMEWA ILUSTRASI: Fenomena #KaburAjaDulu disebut pakar Ilmu Komunikasi PCU sebagai simbol ketidakpuasan generasi muda.

JAKARTA - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh fenomena #KaburAjaDulu, sebuah tagar yang mencerminkan kegelisahan generasi muda terhadap berbagai tantangan yang mereka hadapi di dalam negeri.

Hashtag ini menggambarkan perasaan frustrasi akibat minimnya kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, serta kesejahteraan, yang membuat banyak anak muda mempertimbangkan untuk mencari masa depan di luar negeri.

Menanggapi fenomena ini, dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif di Universitas Kristen Petra (UK Petra), Ido Prijana Hadi menjelaskan bahwa #KaburAjaDulu bukan sekadar tren di media sosial, melainkan bentuk keresahan yang mencerminkan realitas sosial.

“Tagar ini muncul sebagai respons terhadap semakin sempitnya peluang yang tersedia bagi anak muda. Mereka merasa kesulitan untuk berkembang, sehingga memilih mencari peluang di luar negeri sebagai solusi,” ujarnya di Surabaya.

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, Ido melihat tagar ini sebagai simbol komunikasi yang mencerminkan ketidakpuasan publik.

Ia menjelaskan bahwa dalam teori agenda setting, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk opini publik dan bahkan mempengaruhi kebijakan pemerintah.

“Hashtag seperti ini adalah bentuk ekspresi masyarakat yang ingin suaranya didengar. Jika cukup banyak orang membicarakannya, pemerintah mungkin akan mulai memperhatikan dan mempertimbangkan kebijakan yang lebih berpihak pada generasi muda,” paparnya.

Peran teknologi dalam fenomena ini juga tidak bisa diabaikan. Menurut Ido, media sosial telah memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan pendapat mereka dengan lebih luas dan terbuka.

“Dulu, kritik terhadap pemerintah dan sistem lebih sulit disampaikan. Sekarang, dengan teknologi digital, suara masyarakat, terutama anak muda, bisa lebih didengar dan berdampak,” jelasnya.

Namun, tren #KaburAjaDulu juga memiliki dampak yang perlu diwaspadai. Ido mengingatkan bahwa jika semakin banyak anak muda berbakat memilih meninggalkan Indonesia tanpa rencana untuk kembali, maka negara bisa kehilangan sumber daya manusia terbaiknya.

“Jika brain drain ini terus terjadi, perkembangan Indonesia bisa terhambat. Kita tidak hanya kehilangan individu berbakat, tetapi juga potensi inovasi dan kemajuan di berbagai sektor,” tuturnya.

Sebagai solusi, Ido menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah untuk merespons aspirasi anak muda.

Menurutnya, kebijakan yang mendukung perkembangan generasi muda harus menjadi prioritas, baik dalam sektor pekerjaan, pendidikan, maupun kesejahteraan.

“Pemerintah perlu menciptakan sistem yang lebih transparan, memastikan anggaran digunakan dengan baik, serta memberikan akses yang lebih luas kepada anak muda untuk berkembang dan berkontribusi di tanah air,” tambahnya.

Di tengah semakin luasnya fenomena #KaburAjaDulu, Ido berharap pemerintah dapat mendengarkan suara anak muda dan segera mengambil langkah nyata untuk meningkatkan kualitas hidup mereka di dalam negeri.

“Anak muda tidak hanya butuh pekerjaan, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Jika mereka merasa masa depan di Indonesia menjanjikan, tentu mereka akan memilih untuk tetap tinggal dan berkontribusi,” pungkasnya. (jpg/lim)

Editor : Azwar Halim
#generasi muda #jakarta #fenomena #simbol #Kabur aja dulu #uk petra