Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Imbas Banyak Polisi Terkena Kasus, Kepercayaan Masyarakat kepada Polri Jadi Rendah

Radar Tarakan • Selasa, 11 Februari 2025 | 11:00 WIB

 

HANUNG HAMBARA/JAWA POS ANGGOTA POLRI: Sejumlah anggota Polri berbaris usai mengikuti Apel Operasi Mantap Praja Jaya di Monas, Jakarta.
HANUNG HAMBARA/JAWA POS ANGGOTA POLRI: Sejumlah anggota Polri berbaris usai mengikuti Apel Operasi Mantap Praja Jaya di Monas, Jakarta.

JAKARTA - Civil Society for Police Watch mengeluarkan survei terbaru terkait kinerja Polri. Hasil yang didapat terbilang rendah di bawah 50 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri hingga menjadi sorotan publik.

Dalam survei itu sebanyak 28,7 persen responden percaya kepada Polri, sebanyak 3,1 persen sangat percaya, dan 16,3 persen percaya pada Polri.

Lalu, responden yang menjawab tidak percaya sebesar 10,6 persen, kurang percaya 34,1 persen. Responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebesar 7,2 persen.

"Jika diakumulasikan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri berada di angka 48,1 persen atau masih di bawah 50 persen," ujar Inisiator dan Peneliti Civil Society for Police Watch, Hasnu, Senin (10/2).

Dari hasil survei, kata Hasnu, responden yang menjawab kinerja Polri cukup baik sebanyak 24,3 persen, sangat baik 4,3 persen dan baik 17,3 persen.

Hal ini berarti kinerja Polri berada di angka 45,9 persen.

"Sementara yang menjawab kinerja Polri tidak baik sebanyak 1,6 persen, kurang baik 3,7 persen. Responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebesar 48,8 persen," jelasnya.

Hasnu mengatakan, survei juga memotret kondisi penegakan hukum di Indonesia dengan aktor utamanya Polri, Kejaksaan dan KPK.

Dari hasil survei, menunjukkan responden yang menjawab cukup baik sebesar 29,1 persen, sangat baik 4,5 persen, dan baik 18,1 persen.

Sementara yang menjawab tidak baik sebesar 2,3 persen, kurang baik 37,4 persen. Responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sebesar 8,6 persen.

Dengan kondisi Polri seperti, kata Hasnu, publik ingin membuka wacana soal reposisi Polri yang saat ini berada di bawah presiden. Dari hasil survei, mayoritas responden tetap ingin Polri berada di bawah presiden sebanyak sebesar 32,3 persen.

"Hanya saja usulan di luar itu, banyak juga mendapatkan perhatian responden, yakni Polri di bawah Kemendagri 15,8 persen, di bawah Kejaksaan 24,6 persen, sementara yang menjawab Polri di bawah Kemenhan sebesar 15,2 persen, dan responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 12,2 persen," imbuhnya.

Survei ini dilakukan pada 1-7 Februari 2035 terhadap 1.700 responden yang merupakan warga Indonesia berusia lebih besar 17 tahun/sudah menikah dan tersebar di 28 provinsi. Responden dipilih menggunakan metode simple random sampling.

Margin of error survei +/- 1,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Teknik pengumpulan informasi menggunakan wawancara tatap muka dan microsoft form. Surveyor minimal adalah mahasiswa yang sudah mendapatkan pelatihan survei dari tim pusat.

Hasnu mengatakan perbaikan kinerja Polri menjadi hal penting ke depannya. Pasalnya, Polri dalam sistem peradilan pidana di Indonesia memiliki peran strategis seperti penegakkan hukum, melindungi hak asasi manusia, serta menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Isu reposisi Polri ini kan muncul karena banyak isu-isu hukum yang terkait dengan oknum Polri, seperti isu dugaan bekingan judi online, dugaan pelibatan pada kartel narkoba, dugaan pemerasan, bekingan terhadap illegal logging (tambang, batu bara), represifitas terhadap mahasiswa dalam menangani aksi demonstrasi, kriminalisasi dan doxing terhadap aktivis HAM, aktivis lingkungan, dan jurnalis/media melalui UU ITE," pungkas Hasnu. (jpg/lim)

Editor : Azwar Halim
#polisi #polri #kasus #jakarta