Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Bonus Umrah Berkali-kali dan Sepuasnya Main Salju

Azwar Halim • Selasa, 23 Januari 2024 | 09:11 WIB
ISTIMEWA  SERU : Kisah Nur Aeni bersama temannya Kiki dan Izha saat melakukan perjalanan ke luar negeri.
ISTIMEWA SERU : Kisah Nur Aeni bersama temannya Kiki dan Izha saat melakukan perjalanan ke luar negeri.
Ini adalah perdana pengalamanku ke luar negeri. Mengajak dua teman lainnya yakni Kiki dan Izha. Siapa sangka dengan keterbatasan bahasa, kami bisa umrah di Tanah Suci berkali-kali dan main salju di Erciyes Moutain, Turki, sepuasnya. Dari Tanjung Selor, Kalimantan Utara, begini pengalaman pertama kami bertiga.

Nur Aeni, Istanbul

SERU! Tentu saja. Bagaimana saya merancang perjalanan ini dari lima bulan sebelum keberangkatan pada 12 Januari 2024. Berburu dari tiket pesawat, hotel serta transportasi darat di keempat negara. Mulai Arab Saudi, Turki, Malaysia dan Singapura selama 16 hari, gampang-gampang susah. Tapi, syukur Alhamdulillah semua dilancarkan.

Saya bersama Izha bertolak dari Tanjung Selor ke Jakarta melalui Tarakan, Kamis (11/1). Sementara, Kiki sudah lebih dulu berangkat sehari sebelumnya. Kami sepakat untuk bertemu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dan menginap semalam di sebuah hotel tidak jauh dari bandara.

Jumat pagi (12/1), kami berangkat menuju terminal keberangkatan internasional. Tujuan kami sebenarnya ke Cappadocia, Turki selama lima hari. "It's My Dream, Mas," celetuk Izha menirukan Kinan -istri Aris- dalam film Layangan Putus.

Namun, karena ini pengalaman pertama kali kami keluar negeri, saya mengajak mereka untuk sekaligus pergi umrah terlebih dahulu sebelum liburan. Arab Saudi menjadi tujuan pertama negara yang kami kunjungi dengan beberapa kota berpindah-pindah, Mekkah-Madinah-Jeddah.

Pesawat Saudia Airlines SV 817 Boeing 777-200/300 memboyong kami menuju Jeddah pukul 10.45 WIB. Penerbangan langsung sekira sembilan jam lamanya, ini adalah durasi penerbangan terlamaku. Sebisa mungkin, kami membuatnya tetap nyaman. Ada beberapa fasilitas yang kami dapatkan dari maskapai asal Negeri Raja Salman tersebut. Seperti selimut, earphone, penutup mata, penutup telinga, dan bantal.

Kami juga mendapatkan dua kali makan dalam rentang waktu berbeda, makanan berat dan kudapan lengkap dengan minuman. Di dalam pesawat, penumpang juga bisa menonton film, mendengarkan lantunan ayat suci Alquran atau musik religi, dan bermain game virtual. Aktivitas salat juga dilakukan di kabin pesawat, Ada mushola disediakan. Namun, kami bertiga memilih untuk salat di kursi masing-masing.

Tepat pukul 16.45 WAS (Waktu Arab Saudi) atau 21.45 Wita, pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional King Abdul Aziz.  "Tepat waktu Mba, sesuai jadwal di tiket," ujar Kiki.

Benar-benar saat itu membuat kami merinding. Alhamdulillah, kami tiba di Jeddah dengan selamat. Kami telah mikat di Bukit Yalamlam, sehingga sepanjang perjalanan hanya melantunkan talbiah.

Setibanya di Jeddah, kami bertiga masih belum menyangka menginjakkan kaki di negeri kelahiran Rasulullah tersebut. Banyak yang menyebut perjalanan kami umrah backpacker. Kami lebih suka menyebutnya umrah mandiri.

Setibanya di terminal bandara, kami bergegas menuju stasiun kereta cepat.  Lokasinya masih di areal bandara. Nama jet darat kepunyaan Arab Saudi ini adalah Haramain Express. Moda transportasi yang membawa kami dari Jeddah ke Makkah.

Telah lebih dulu kami menjajalnya ketimbang kereta cepat Whoosh rute Jakarta-Bandung yang justru belum pernah. Rute lain yang dilayani kereta Haramain adalah Makkah-Madinah dan Madinah-Jeddah.

Waktu tempuh yang cepat, yakni 54 menit menjadi alasan kami memilihnya. Sebenarnya ada alternatif transportasi seperti taksi atau bus. Dari segi biaya juga lebih murah dari sepur. Namun, normalnya butuh waktu hingga 2 jam untuk tiba di Makkah dari Jeddah.

Setibanya di stasiun Mekkah, barulah melanjutkan perjalanan ke hotel menggunakan jasa taksi. Di sinilah naluri emak-emak dipakai, ilmu tawar-menawar. Ya  saat berhadapan dengan sopir taksi di sana harus jeli menawar.

"How much from airport to this hotel?," kataku kepada sopir taksi sembari menunjukkan nama dan lokasi hotel. Pertanyaan singkat yang pasti sudah dimengerti para sopir.

Saya dan Izha tidak terlalu lancar berbahasa Inggris atau Arab. Beruntungnya, Kiki sedikit menguasai.

"Enggak juga, just little bit. “ Hehehe," ucap Kiki terkekeh. Kendala bahasa tak semenyeramkan yang kami bayangkan sebelumnya. "Bermodal bahasa isyarat pun sepertinya bisa," celetuk Izha seraya tertawa.

Setelah sepakat harga, kami diantar ke hotel yang jaraknya 900 meter dari Masjidil Haram. Hotel bintang lima dengan tiga ranjang, namun dengan harga miring. Untuk 4 hari 3 malam, bujet yang dirogoh sekitar Rp 4 juta.

"Semakin jauh, semakin banyak pahala, Mba," ujarku kepada Izha dan Kiki.

Tidak menyia-nyiakan waktu, selepas menaruh koper dan ransel di hotel langsung bersiap menjalankan serangkaian rukun umrah. Ada mutawif (pembimbing) bernama Laga yang mendampingi. Dia adalah warga negara Indonesia yang sedang menempuh pendidikan strata dua di Universitas Al-Azhar, Kairo (Mesir).

Kebetulan saat momen kami di Tanah Suci, sedang di Makkah. Sejak masih di Tanah Air, sudah mengatur kesepakatan untuk menjadi mutawif. Berjalan dari hotel seraya melantunkan talbiah selama 15 menit, kaki kami akhirnya tiba di Masjidil Haram.

Sungguh pengalaman luar biasa. Momen pertama kali melihat kakbah, air mata kami bertiga seketika kompak menetes membasahi pipi. Sang mutawif memberikan kesempatan kami berdoa dan  merasakan haru.

Setelah itu, ia membimbing tawaf, sai, dan tahalul. Empat jam waktu yang dihabiskan. Umrah pertama ini selesai pukul 00.30 WAS. Selanjutnya, ibadah lain kami kerjakan mandiri. Dari salat berjamaah, membaca Alquran, dan berdoa.

Pada hari kedua di Makkah, saya meniatkan untuk badal umrah ibu yang telah wafat. Sementara Izha dan Kiki menyempatkan beristirahat sejenak lalu berjamaah di Masjidil Haram.

Bermodalkan menonton youtube, saya pergi mikat seorang diri dari Masjidil Haram ke Masjid Aisyah atau Masjid Tan'im. Ada dua transportasi yang saya gunakan untuk sekali perjalanan taksi dan bus.

Untuk kembali ke Masjidil Haram, saya memilih menggunakan bus dan jalan kaki. Harga sekali naik bus senilai 8 riyal atau setara Rp 32 ribu. Selanjutnya, saya menunaikan umrah yang kedua untuk almarhumah ibu.

Pada hari ketiga barulah kami ke Gua Hira menggunakan taksi sekaligus pelesiran keliling kota. Ada beberapa titik bersejarah dilewati, namun sekadar melihat dari dalam taksi. Mulai Jabal Tsur hingga tempat lontar jumrah di Mina. Barulah di Gua Hira (tempat pertama kali wahyu turun) kami singgah. Hanya saya dan Kiki yang mendaki ke Jabal Nur.

Sementara Izha memilih menunggu di Musala Hira Cultural District. Sore itu, untuk naik ke atas membutuhkan waktu sejam. Begitu pun turun. Perlu kehati-hatian karena melewati tebing.

"Ini masih ada jalan yang sengaja dibuat untuk memudahkan ya. Bagaimana Rasulullah dahulu mencapai atas? MasyaAllah," tutur Kiki kagum.

Tujuan kami berikutnya adalah Masjid Tan'im sebagai lokasi mikat. Saya sendiri kembali meniatkan umrah ketiga untuk ayah yang juga telah tiada. Pun demikian Izha dan Kiki meniatkan umrah kedua mereka untuk keluarga yang telah meninggal.

Sudah tiga hari di Makkah, saatnya kami bergeser ke Madinah, Ahad (14/1). Kereta Haramain Express masih menjadi pilihan.  Dari Makkah ke Madinah menempuh waktu 2 jam. Lebih cepat 2 jam dari kendaraan mobil penumpang. Setibanya di Madinah, kami langsung menuju hotel yang lokasinya terbilang strategis. Dari hotel jarak ke pintu 338 Masjid Nabawi sejauh 300 meter.

Kisaran harga kamar antara Makkah dan Madinah juga tidak beda. Dengan 3 ranjang untuk 2 malam pun dengan harga sekitar Rp 4 juta.

Tahun ini, aturan ziarah ke Raudah telah berbeda. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memberlakukan pendaftaran terlebih dulu melalui aplikasi Nusuk jika hendak berkunjung. Dengan demikian, tidak bisa lagi berulang kali masuk Raudah.

"Dibatasi. Daftar harus lewat aplikasi. Tapi, tetap ada saja yang melanggar," Ustaz Junaidi, WNI yang tak sengaja bertemu di lobi hotel. Biasanya, lanjut dia, si pelanggar tersebut adalah daftar tasreh alias surat keterangan izin masuk Raudah secara ilegal. "Ya ada saja yang seperti itu," ujarnya.

Melalui perjumpaan tidak sengaja itu, kami meminta bantuan Ustaz Junaidi mengantar keliling Kota Madinah. Sebenarnya ada bus bertingkat yang bisa mengantar kami 24 jam. Namun, karena baru pertama kali kami memilih untuk diantar.

"Biar paham sejarahnya tempat- tempat yang dikunjungi," tutur Ustaz Junaidi.

Pada hari kedua, objek yang dikunjungi, yakni Masjid Quba, kebun kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud. Nah, pada hari ketiga sekaligus hari terakhir di Madinah baru kami jadwalkan untuk mencari cenderamata. Di Madinah, harga oleh-oleh relatif lebih murah dibanding di Makkah. Karena keterbatasan bagasi, kami tidak terlalu banyak membeli barang.

Koper dan ransel telah penuh barang bawaan  sedari Indonesia. Mengingat, tujuan kami ke luar negeri adalah Turki. Nah, kedatangan di bulan ini bertepatan musim dingin. Alhasil, perlengkapan pakaian berbahal tebal yang mengisi ruang koper.

"Tipsnya, buat yang mau ke Turki bawa koper 26 inchi karena bagasi hanya 23 kg. Secukupnya bawa baju, perlengkapan winter bisa dibeli di sini, lebih murah," kata Izha saat beli sepatu winter harga sekitar 500 Lira Turki.

Sebelum ke Turki, dari Madinah kami menuju Jeddah. Lagi-lagi menggunakan kereta Haramain. Hanya sekadar transit menunggu penerbangan ke Istanbul, Kamis (18/1) siang. Salah satu apartemen di Jeddah dipilih untuk meluruskan badan sebelum menempuh perjalanan udara 4 jam dengan Saudi Airlines.

Setibanya di Bandar Udara Istanbul (IST), harus bersalin pesawat domestik menuju Provinsi Navsehir- Kapadokya. Selisih waktu dua jam. Sama seperti Indonesia wilayah barat dan timur. Beruntung ada teman yang kebetulan di sana. Jadi, dia membantu kami untuk proses check-in.

"Alhamdulillah beberapa hari ini bener-bener dimudahkan. Ketemu orang-orang baik," ujar Kiki.

Dari Istanbul ke Kapadokia, perjalanan kurang lebih satu jam menggunakan pesawat Turkish Airlines. Setibanya di Bandara Kapadokya, kami dijemput layanan bus penjemputan hotel  yang berlokasi di Kota Goreme. Waktu tempuh 30 menit dari bandara, kami memilih Goreme supaya bisa leluasa melihat balon udara.

Sayangnya, selama 3 hari di Kapadokia, tak satupun balon udara yang terbang. Informasi yang kami terima, terakhir mengudara pada 2 Januari. Faktor cuaca menjadi alasan utama.

Kendati tak dapat menjajal wisata balon udara, kami menikmati keindahan panorama Goreme dengan cara jelajah berkuda, menyusuri museum terbuka Goreme, cerobong peri, hingga lembah. Keindahan yang luar biasa.

"Kalau ada balon udaranya makin amazing. Sepertinya lain kali harus diulang," kata Kiki.

Kapadokya dalam film series Layangan Putus sebagai kota yang diimpikan Kinan -istri Aris- yang diperankan Putri Marino. Tak hanya itu, kami juga pergi menggunakan bus ke Kayseri.

Di sana ada Gunung Erciyes yang diselimuti salju dengan temperatur udara -8° celcius. Jarak dari Goreme sekitar 1,5 jam. Ada beragam wahana. Salah satunya yang kami coba adalah kereta gantung. Dari atas melihat orang bermain ice skating.

Di Turki, sebenarnya, ada 2 kota lagi di yang kami kunjungi. Yakni, Bursa dan Istanbul. Dan, 2 negara di Asia Tenggara Malaysia dan Singapura. Saat tulisan ini diturunkan, saya masih di Bandara Kapadokya sembari menunggu penerbangan ke Istanbul.

Di edisi berikutnya, saya akan berbagi pengalaman tentang makanan di negeri orang. Termasuk, cerita di 2 negara tujuan terakhir. Oke ditunggu ya!. (*/jnr) Editor : Azwar Halim
#nasional