Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Minim Curah Hujan, 176 Warga Jakarta Kekurangan Air Bersih

Azwar Halim • Kamis, 28 Desember 2023 | 09:23 WIB
DISTRIBUSI: Petugas Tagana Dinas Sosial saat menyalurkan air bersih. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
DISTRIBUSI: Petugas Tagana Dinas Sosial saat menyalurkan air bersih. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
JAKARTA - Meski musim hujan diprediksi terjadi akhir tahun 2023, namun curah hujan di berbagai daerah masih minim, tak terkecuali di Yogyakarta.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Yogyakarta, mencatat 176 warga masih kesulitan air bersih akibat hujan yang tak kunjung turun.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan, 176 warga tersebut berada di kawasan lereng Gunung Merapi yang meliputi wilayah Kaliurang Selatan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menyadur dari Radar Jogja (Jawa Pos Group) pada Rabu (27/12), ia mengatakan BPBD Sleman masih berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyalurkan air bersih.

“Sampai saat ini memang masih ada wilayah di kabupaten Sleman yang membutuhkan suplai air bersih,” ujar Bambang

Ia pun mengatakan jika anggaran sebesar Rp 50 juta untuk penyaluran air bersih BPBD Sleman telah habis pada November lalu saat menghadapi kemarau panjang.

Walaupun demikian, BPBD Sleman tidak mengajukan dana darurat kepada Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Kami tidak mengajukan dana darurat BTT (Belanja Tak Terduga). Karena sudah ada bantuan dari instansi, organisasi masyarakat, maupun swasta,” terang Bambang.

Sementara itu, peternak di Gunung Kidul, DIY mengeluhkan kurusnya hewan ternak akibat kurang makan.

Hal ini disebabkan karena penggemukan hewan ternak tidak berjalan maksimal seperti yang dituturkan Peternak di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Gunung Kidul, Sabar.

“Kemarau panjang, peternak kesulitan pakan,” ucap Sabar. Ia pun mengakui jika harga hewan ternak mengalami penurunan saat musim kemarau. “Tiap tahun ini harganya anjlok, menurun hingga Rp 2 juta,” ujarnya.

Para peternak pun memilih menahan hewan ternaknya untuk tidak dijual karena terlihat kurus dan terdapat bekas penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). (jpg/har) Editor : Azwar Halim
#nasional #jakarta